Masjid Al Anwar Muara Angke Yang Penuh Sejarah

Kubah Masjid – Masjid ini adalah salah satu masjid yang sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Masjid Al Anwar atau dulunya disebut Masjid Muara Angke ini juga ikut menjadi tempat berlindung para pejuang kita khususnya para cendekiawan muslim untuk membuat strategi penyerangan terhadapa tentara Belanda yang saat itu menjajah bangsa Indonesia.

 

Berdirinya masjid ini tidak lepas dari para pejuang bangsa Indonesia misalnya saja seperti Pangeran Fatahillah dan Tubagus Angke. Masjid ini terletak di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat ini diyakini dibangun oleh sekelompok orang Bali yang tinggal di Batavia yang sekarang bernama Jakarta, tepatnya pada tahun 1761. Saat ini Masjid Muara Angke ini juga termasuk monument bersejarah yang dilindungi hal ini tertulis pada monument ordonantie Stbl 1931 No. 238.

 

Masjid Muara Angke ini memiliki luas tanah 400 meter persegi, dan untuk bangunan sendiri berukurang 15 m x 15 , bisa dikatakan ini ukurannya terlalu kecil untuk bidang tanah yang luasnya 400 meter. Namun yang menarik dari Masjid Muara Angke ini adalah gaya arsitekturnya yang menggabungkan budaya bangunan Belanda, Cina dan Banten Kuno.

 

Untuk gapura Masjid ini letaknya di sebelah utara dan berbentuk gapura belah. Dan pintu masuk Masjid berada di sebalah sudut selatan. Dinding – dinding gapura  masjid juga dihiasi relung semu. Sejalan dengan tembo pembatas yang mengelilingi masjid, juga berhiaskan pelipit – pelipit yang sama dengan gapuranya.

 

Ada beberapa makam terdapat dihalaman belakang daripada Masjid ini. Diantaranya adalah makam Syekh Ja’far yang tidak diketahui asal- usulnya. Juga ada terdapat makam Syekh Syarif Hamid al-Qadri yang asalnya dari Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat. Ia dibuang Belanda pada tahun 1800-an karena ia memberontak terhadap Belanda. Dari batu nisannya kita tahu bahwa beliau meninggal di usia yang ke 64 tahun lebih 35 hari tepatnya pada tahun 1854 M.

Baca juga : Masjid Warna-Warni di Kawasan Bandara Soekarno Hatta

Salah seorang ahli sejarah yang berkebangsaan Belanda menjelaskan pada bukunya  berjudul Ou Batavia bahwa masjid ini didirikan pada hari Kamis, tanggal 26 Sya’ban 1174 H atau jika dalam pertanggalan Masehi tepatnya pada tanggal 2 April 1761 M. Dalam bukunya beliau juga menceritakan bahwa pendiri Masjid Muara Angke ini salah satunya adalah perempuan berkebangsaan Cina yang kemudian menikah dengan penduduk asli Banten.

 

Memperhatikan situasi kota Jakarta setelah Proklamasi Kemerdekaan, tanggal 17 Agustus 1945, di lima wilayah Jakarta masih mengalami aneka ragam gejolak perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan 1945 dari serangan Belanda. Maka, di kompleks masjid ini, para pemudanya sering melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dalam mengoordinasi kegiatan menentang Belanda. Melalui khotbah-khotbah yang disampaikannya, para ulama melakukan provokasi untuk menentang Belanda.

 

Bahkan selain itu, masjid ini dijadikan tempat penggemblengan para pejuang bangsa. Dari tempat yang agak tersembunyi ini disusun strategi perjuangan dalam menghadapi kekejaman serdadu-serdadu Belanda. Karena rapinya kegiatan-kegiatan dan aksi yang dilakukan oleh para pemuda daerah ini sehingga Belanda tidak dapat mencium kegiatannya. Maka, selamatlah masjid ini dari serbuan tentara Belanda.

 

Dalam kondisi demikian, Masjid Angke terus memenuhi peranannya sebagai tempat pengisian landasan perjuangan, benteng iman, dan ketakwaan umat Islam dalam menghadapi penindasan penjajah Belanda.

 

CV Micro 2000 adalah Kontraktor Pekerjaan Kubah Masjid yang sudah teruji dan berpengalaman. Kami memilih specialis pembangunan Masjid khususnya Kubah Masjid dengan bahan panel, enamel. Silahkan hubungi kami:
Alamat : Jln Jeruk No 50 B, Wage – Sidoarjo
Tlp : 081 83 81 781
Contak Person : Ir. Faizal Muzamil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.