CV MICRO 2000
Kubah masjid
CV.MICRO 2000

Tlp : 081 83 81 781
081234 855 844
CP: Ir. Faizal Muzamil
Email :Faizalklm@gmail.com

Posts Tagged ‘kubah masjid’

Masjidil Haram, Masjid Tertua di Dunia

Masjidil Haram terletak di Kota Makkah Al Mukaramah. Masjidil Haram merupakan masjid tertua di dunia yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Masjid ini berbentuk empat persegi dan dibangun mengelilingi Ka’bah. Ka’bah tidak memiliki kubah masjid. Hal ini tentu berbeda dengan masjid manapun didunia. Shaf di Masjidil Haram ini berbentuk lingkaran, semuanya menghadap ke Ka’bah yang berada di tengah-tengah. Ini juga merupakan keunikan yang tidak dimiliki masjid manapun di dunia.

Ka’bah adalah bangunan yang menyerupai bentuk kubus, tempat ini merupakan bangunan pertama yang ada di atas muka bumi yang digunakan sebagai kiblat dalam menjalankan ibadah Sholat oleh umat Islam, sebagai mana firman Allah dalam (QS. Ali Imran ayat 96) yang artinya :

“Sesungguhnya permulaan rumah yang dibuat manusia untuk tempat beribadah itulah rumah yang di Bakkah (Mekkah), yang dilimpahi berkah dan petunjuk bagi alam semesta.”

Ka’bah disebut pula Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul Atiq (Rumah Kemerdekaan) dibangun berupa tembok bersegi empat dari batu-batu besar berwarna kebiru-biruan yang berasal dari gunung-gunung sekitar Mekkah.

Kiswah adalah penutup keempat dinding Ka’bah yang tergantung dari atap sampai kaki terbuat dari kelambu sutra hitam, lebarnya total 658 m2. Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan kiswah ini sebesar 17.000.000 riyal dengan tenaga kerja sebanyak 240 orang, hal ini telah dilakukan sejak zaman Nabi Ismail.
Kiswah tiap tahun diganti, dilakukan pada tanggal 10 Djulhijjah ketika para jamaah sedang berada di Mina, Kiswah ini dihiasi dengan tulisan Al Qur’an yang disulam secara khusus dengan benang emas, salah satu kalimatnya adalah:

Allah Jalla Jalalah, la ilaha illaallah, Muhammad Rasulullah. (Allah Maha Agung, tiada Tuhan selain Allah, Muhammad itu Utusan Allah).

Pintu Ka’bah disebut juga dengan nama al-burk , ini terbuat dari bahan emas murni 99 karat, dengan berat keseluruhan 280 kg. Letak pintu ini dari lantai thawaf adalah 2,25 meter sedangkan daun pintu itu sendiri panjangnya 3,06 meter dengan lebar 1,68 meter. Pintu yang sekarang ini adalah hadiah dari raja Khalid bin Abdul Aziz. Dalam sejarahnya pintu ini telah berubah-ubah baik dari bahan baku seni dan bentuknya. Hadits Nabi yang mengatakan :

“Siapa yang masuk ke Baitullah berarti dia masuk dalam kebaikan, keluar dari kejahatan dan dia mendapatkan ampunan”.  ( HR. Ath –Thabrani dari Ibnu Abbaas)

Nilai harga pintu itu Rp. 14.420.000,- ( empat belas juta empat ratus dua puluh ribu ) pada tahun 1979 M.

Hajar Aswad adalah batu hitam yang terletak disudut sebelah tenggara Ka’bah, yaitu sudut dimana Thawaf dimulai. Hajar aswad berasal dari syurga yang dibawa oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah, batu ini terdiri dari 8 keping yang terkumpul diikat dengan lingkaran perak. Ciri-ciri Hajar Aswad adalah jika dimasukkan ke dalam air akan mengapung dan bila dibakar tidak akan pecah. Hadits Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:

Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah bersabda : “Hajarul Aswad diturunkan dari syurga dan berwarna lebih putih dari susu. Dosa-dosa manusia (anak Adam) menyebabkannya menjadi hitam”. (HR. Ahmad dan Turmizi)

Mihzab (Talang Emas)

Talang air ini dulunya tidak ada karena Ka’bah belum memiliki atap, namun pada saat renovasi Ka’bah yang dilakukan suku Quraisy, bangunan ini diberi atap, hingga memerlukan talang air.
Talang air sering diganti dan yang ada sekarang hadiah dari Sultan Abdul Majid Khan Bin Sultan Muhammad Khan dari Konstantinopel pada tahun 1276 H (1859 M), bahannya dilapisi emas seberat 40 kg. Pada tahun 317 H. salah seorang pengikut Abu Taher Al-Qurmuthy berniat untuk mencuri, namun ketika memanjat dinding Ka’bah dia terjatuh dan akhirnya tewas.
Letak talang emas ini persis di depan Hijr Ismail, tempat dimana talang ini berada oleh Khalifah Utsman disebut pintu surga.

Maqam Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana pendapat orang-orang kebanyakan. Ia adalah bangunan kecil di sebelah timur Ka’bah. Di dalam bangunan kecil ini terdapat sebiji batu yang diturunkan oleh Allah dari Syurga bersama-sama dengan Hajarul Aswad. Di atas batu itu Nabi Ibrahim berdiri di waktu baginda membangun Ka’bah. Salah satu Mu’jizat yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim, batu tersebut dapat naik dan turun sesuai kehendak nabi Ibrahim ketika membangun tembok Ka’bah. Letak maqam Ibrahim berhadapan dengan Pintu Ka’bah.

Hijr Ismail terletak berdampingan dengan Ka’bah, dipagari oleh tembok rendah (al-Hatim) berbentuk setengah lingkaran.  Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, sebahagian dari Hijir Ismail itu adalah termasuk dalam Ka’bah. Ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Aisyah r.a. yang artinya :

Dari ‘Aisyah r.a. berkata : “Aku sangat ingin memasuki Kaabah untuk melakukan sembahyang di dalamnya. Rasulullah memegang tanganku dan memasukkan aku ke dalam Hijir Ismail sambil berkata “Sembahyanglah kamu di Hijir jika kamu hendak masuk ke dalam Ka’bah karena kaum engkau (orang Quraisy) telah meninggalkan bagian ini di luar semasa mereka membangun Ka’bah.”

Ditempat ini sering dipakai jamaah Haji maupun Umrah untuk melakukan shalat sunnat karena diyakini sebagai salah satu tempat yang mustajab untuk berdo’a. Orang yang telah mengerjakan thawaf, disunatkan mengerjakan shalat sunat dua rakaat di Hijir Ismail dan mengerjakan shalat sunat di Makam Ibrahim.

Multazam adalah dinding atau tembok antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Tempat ini dipergunakan oleh jamaah Umrah maupun Haji untuk bermunajat kepada Allah setelah selesai melakukan tawaf. Jarang orang tidak meneteskan air mata disini, disamping terharu akan kebesaran Allah, Multazam juga salah satu tempat paling musatajab, sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaki dari Ibnu Abbas yang artinya :

“Antara Rukun Aswad dan pintu Ka’bah disebut Multazam. Tidak ada orang yang meminta di Multazam, melainkan Allah Kabulkan permintaannya itu.”

Telaga Zam-Zam

Zam-Zam dalam bahasa arab berarti air yang melimpah, sumur di bawah tanah yang terletak ± 20 meter sebelah Tenggara Ka’bah ini mengeluarkan air bersih dan jernih yang tiada henti, dan diamanatkan agar sewaktu meminum air Zam-zam harus niat. Sebelum minum air zam-zam kita menghadap ke Ka’bah bermunajat kepada Allah sbb :

Bismillahirrahmaanirrahiim:
“Ya Allah, aku mohon pada-Mu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rezeki yang luas dan disembuhkan dari segala macam penyakit.”

Tentang air Zamzam ini sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari isteri Nabi Ibrahim as yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail as. Waktu itu Ismail dan ibunya ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di Mekkah, mereka kehabisan air minum, maka Siti Hajar berlari kecil dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sebanyak 7 kali untuk mendapatkan air, namun tak menemukan setetes air pun. Tiba-tiba ia mendengar suara. Maka Siti Hajar pun berkata :

“Aku mendengar suaramu tolonglah kami jika engkau memiliki kebaikan.”

Kemudian Malaikat Jibril menampakkan diri dan melalui hentakan kaki Ismail, serta merta memancarlah air dari perut bumi. Siti Hajar membendung air itu karena melimpah serta berkata zam… zam… zam… yang maksudnya kumpul….… kumpul……. Dengan bekal air inilah mereka menyambung hidup.

Mas’a adalah sebutan untuk tempat para jamaah haji melakukan Sa’i, yang dibangun untuk menghubungkan antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Terbuat dari lantai pualam sepanjang 405 m. Jamaah Haji yang melakukan Sa’i harus melalui jalur tersebut sebanyak 7 kali pulang pergi. Kini telah dibangun menjadi dua tingkat, jumlah jarak yang ditempuh antara Shafa dan Marwah adalah 7 x 405 m = 2.835 meter.

Tag:

Keunikan Masjid Tionghoa, Masjid Lautze yang Terkenal

Jika kita berjalan menyusuri Jalan Lautze No. 87-88, Jakarta Pusat, kita mungkin akan merasa heran jika melihat papan nama bertuliskan Yayasan Karim Oei menyelit di deretan toko daerah Pecinan di wilayah Pasar Baru, Jakarta. Apalagi jika kita mengetahui di dalamnya ternyata ada sebuah masjid, dengan nama  Masjid Lautze. Sesuai dengan nama jalannya Jalan Lautze.

Masjid Lautze terlihat sangat unik. Tidak ada kubah masjid maupun bedug sebagaimana lazimnya sebuah masjid. Warnanyapun lebih mirip warna bangunan Klenteng dengan dominasi warna merah darah menyapu pintu. Interior di dalamnya pun percampuran merah dan kuning. Namun, ada 3 buah kaligrafi yang asli berasal dari China.

Masjid Lautze yang berarti guru atau orang yang dihormati sengaja dibuat mirip Klenteng karena itu tidak dilengkapi dengan kubah masjid atau bedug. Sengaja supaya tidak ingin menunjukkan masjid. Supaya yang datang tidak sungkan. Dengan demikian, orang-orang Tionghoa merasa biasa dan familiar masuk ke sini. Bahkan Pernah suatu saat ada enci-enci dengan membawa hio masuk ke dalam hendak berdoa. Mereka mengira kelenteng. Selain itu, pengurus masjid juga mengizinkan orang non-muslim masuk ke masjid yang terletak di lantai satu dan dua Yayasan Haji Karim Oei. Bahkan, masjid ini dilengkapi balkon di lantai dua supaya umat non-muslim bisa melihat bagaimana orang Islam shalat. Kalau mereka gak boleh masuk kapan mau jadi Islam?

Yayasan Lautze yang saat ini diketuai Junus Jahja ini sengaja didirikan untuk melanjutkan semangat Karim Oei (1988). Ia dikenal sebagai pionir umat Islam yang berasal dari kalangan Tionghoa. Sepanjang hidupnya, selain menjadi pengusaha nasional yang sukses juga seorang pejuang, ia menjabat Ketua Muhamadiyah di Bangkulu, aktif di Partai Masyumi dan menjadi Bendahara MUI. Misi yayasan ini adalah ingin memecahkan persolan pembauran antara ‘pribumi’ dan ‘non pribumi’. Maka kami didirikanlah yayasan di sini. Masalah pembauran tersebut dinilai  belum tuntas di Indonesia. Karena masyarakat Tionghoa masih belum bisa menerima kehadiran Islam sebagai agama dengan pengikut mayoritas. Contohnya Filipina dan Thailand. Orang Cina yang masuk ke Filipina tidak masalah karena mereka membaur dengan agama Katolik, sebagai mayoritas. Begitu pula yang masuk ke Thailand, karena mereka menerima agama Budha. Menerima tidak harus menjadi pengikut agama. Bukan soal harus masuk Islam, paling tidak bisa menerima agama Islam, sebagaimana masyarakat Tionghoa menerima agama lain di luar Islam. Kalau masuk Islam kan tergantung Allah.

Dakwah di daerah Pecinan sangat potensial. Saat yayasan kali pertama dibuka banyak yang antusius. Ada yang langsung menyatakan diri Islam, bertanya-tanya soal Islam, dan menyatakan minatnya pada Islam. Maka tidak mengherankan sejak berdiri pada tahun 1991, diperkirakan jemaah Masjid Lautze lebih dari seribu orang, 99 %nya merupakan mualaf keturunan Tionghoa. Saat ini dalam seminggu ada 2-3 orang yang masuk Islam. Yang menarik, yayasan dan Masjid Lautze bukanya mengikuti jam kantor. Dengan demikian shalat hanya saat dzuhur dan ashar saja. Jemaatnya pun kebanyakan berasal dari karyawan di sekitar jalan Lautze. Sedangkan  jemaah yang Tionghoa yang berasal dari Jabotebak berkumpul  pada hari Minggu. Diisi dengan silahturahmi, ada masjid taklim, belajar dasar agama Islam dan sharing di antara mereka. Sedangkan selama bulan Ramadhan, kegiatan ditambah dengan buka puasa bersama dan tarawih. Di luar hari minggu, para jemaah biasanya diundang berbuka puasa di rumah-rumah pejabat. Ini sudah menjadi tradisi.

 

Ke depan, yayasan Haji Karim Oei ini akan terus melanjutkan pemecahan masalah pembauran di Indonesia. Karena Islam sendiri, sebagaimana tercantum dalam Surat Al Hujuraat ayat 13, menghargai toleransi dan pembauran. Intinya, Allah sengaja menciptakan bermacam-macam suku, bangsa, dan agama supaya saling mengenal. Di mata Allah tidak ada yang lebih mulia, yang penting takwa pada-Nya.

Itulah sebabnya, yayasan yang memiliki 4 lantai ini membuka beberapa cabang. Saat ini cabangnya sudah ada di Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Gading Serpong Tangerang, dan Surabaya. Umumnya mereka yang meminta dibukakan cabang di daerah2. Soalnya kalau langsung ke masjid masih malu dan sungkan.

Masjid Al-Anshor yang Merana

Masjid dengan nama Masjid Al-Anshor ini begitu mungil  terletak di Jalan Pengukiran, Kecamatan Pekojan, Jakarta Barat. Pekojan barangkali lebih pantas disebut gang karena yang ada memang cuma jalan barang dua tapak. Di gang inilah terdapat masjid dengan bangunan tua yang merana. Masjid ini didirikan oleh pendatang dari Malabar (India) di abad ke-17. Masjid ini tidak memiliki kubah masjid sebagaimana mestinya. Atap masjid ini berbentuk prisma segitiga yang tersusun dari genting-genting tua.

Pada tahun 1648 Masjid Al-Anshor berdiri luas dengan adanya pemakaman di kompleks masjid. Namun pada saat ini kondisinya sudah sangat jauh berbeda. Masjid itu kini berada di gang perkampungan padat. Ironisnya, baik pekarangan maupun makam yang diyakini sebagai makam para pendiri masjid itu kini lenyap sudah.

Ukuran Masjid Al-Anshor  kini menyusut menjadi hanya 12 m x 12 m. Dapat dikatakan jika sudah tidak seperti dulu lagi. Kemungkinan penyebabnya adalah  renovasi yang pernah dilakukan tampaknya kurang memperhatikan prinsip-prinsip pemugaran. Sisa bangunan yang masih asli hanya diwakili oleh jendela berkisi, pintu, dan palang kayu di atap. Selebihnya, termasuk empat tiang penyangga, sudah diganti.

Menurut penjaga masjid, Paiman bin Legiman, yang besar di gang ini, masjid tua tersebut kini bagai tak tersentuh perhatian dari dinas terkait. “Tahun lalu kita kena banjir sampai setinggi 70 cm. Makanya mau enggak mau, kita swadaya, bikin supaya masjid aman dari banjir. Jadi kita tinggikan bagian depannya,” katanya. Memang, di halaman masjid itu kini terlihat sisa-sisa pembangunan yang belum kelar. “Kami mohon ada perhatian dari pemerintah sebab ini kan bangunan cagar budaya. Lama-lama bisa ilang ini masjid,” kata Paiman mengungkapkan kekhawatirannya. Upaya renovasi terakhir telah dilakukan sejak tahun 1997. Tapi, belum lagi lewat 10 tahun dari renovasi terakhir, bangunan sudah ada yang roboh sehingga harus dilakukan renovasi sendiri oleh warga sekitar. “Tidak pernah ada survei dari pemerintah. Saya bingung, sepertinya kok putus hubungan antara pemerintah dengan masjid tua ini. Soalnya enggak pernah ada perhatian,” ujar Paiman. Di mulut gang menuju masjid itu terpampang papan besar yang berisi penetapan masjid tersebut menjadi bangunan cagar budaya.

Kampung tua

Di kawasan Pekojan sebenarnya tak hanya ada masjid tua Al-Anshor. Banyak masjid-masjid tua lainnya, antara lain Masjid An-Nawier yang dibangun tahun 1760, masjid ini adalah salah satu masjid terbesar bukan saja di Pekojan, tapi juga di Jakarta Barat. Lalu ada masjid Langgar Tinggi yang dibangun tahun 1829 dan terletak persis di tepi Kali Angke. Masjid lainnya adalah Masjid Jami’atul Khair yang didirikan tahun 1901. Tapi dari semuanya itu, Al-Anshor lah yang paling merana.

Masjid An-Nawier mampu menampung hingga 2.000 jamaah. Di bagian belakang masjid terdapat makam Syarifah Fatmah binti Husein Alaydrus yang mendapat julukan Jide (nenek kecil) yang hingga kini makamnya masih diziarahi banyak orang. Masjid ini memiliki 33 tiang di ruangan salat dan menara masjid yang menyerupai mercusuar yang merupakan keunikan masjid tersebut.

Masjid Langgar Tinggi dinamakan seperti itu karena masjid tersebut berlantai dua dan ketika itu para pedagang yang sedang melewati Kali Angke dapat langsung mengambil air wudu di tempat ini. Masjid itu dibangun oleh seorang kapiten Arab bernama Syekh Said Naum. Sebelum menjadi kapiten dia adalah seorang pedagang yang cukup kaya di Palembang.

Masjid Jami’atul Khair bermula ketika pada awal abad ke-20 di Pekojan berdiri madrasah Jamiatul Khair (perkumpulan kebaikan), tepatnya pada tahun 1901. Organisasi itu dibentuk oleh Ali dan Idrus, keduanya dari keluarga Shahab. Perkumpulan ini menimbulkan simpati dari tokoh-tokoh Islam, seperti KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS Cokroaminoto (pendiri Syarikat Islam) dan H Agus Salim.

Asal-usul Pekojan

Nama Pekojan berasal dari kata Khoja atau Kaja, suatu nama daerah di India yang sebagian masyarakatnya bermata pencaharian pedagang dan beragama Islam. Selain berdagang mereka juga menyebarkan agama Islam di daerah ini. Prof Van de Berg dalam bukunya Hadramaut dan koloni Arab di Nusantara menyebutkan, sebelum dihuni etnis Arab dari Hadramaut, daerah ini terlebih dahulu menjadi kediaman orang-orang Bengali/Koja dari India. Salah satu kebijakan Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) terhadap etnis yang ada di Batavia adalah menempatkan mereka  pada daerah tertentu berdasarkan etnisnya (Wijkstelsel). Selain itu VOC juga memberlakukan politik Passenstelsel. Dengan sistem ini penduduk Pekojan yang akan ke tempat lain harus membawa kartu pas jalan. Dari pembagian wilayah berdasarkan etnis itulah maka sekarang ini kita kenal adanya Kampung Melayu, Bali, Banda, Makasar, Jawa.

 

 

 

Berkelana ke Negeri-negeri Uzbekistan

Kubah masjid

Kubah masjid

Permata Islami

O Bokhara!
Engkau menghias Langit, Ialah Bulan yang cemerlang,
O Langit yang perkasa, memeluk BulanMu dengan riang

Demikian Abu Abdullah Rudaki, sang pujangga Persia, menggoreskan bait syahdu tentang keagungan kota suci Bukhara, lebih dari seribu tahun silam.

Keagungan kota suci Bukhara terpancar dari Masjid Kalon yang berdiri megah mendominasi pemandangan langit kota kuno ini. Kalon, dalam bahasa Tajik, berarti besar, secara harafiah mendeskripsikan kebesaran tempat suci ini. Takzim menyelimuti sanubari siapa pun yang berziarah ke Bukhara, kota yang paling mulia di seluruh penjuru dataran Asia Tengah.

Pintu gerbang Masjid Kalon membentang tinggi, berhadap-hadapan dengan Madrasah Mir-e-Arab, seperti jiplakan cermin tembus pandang. Gerbang utama, berbentuk kotak, bertabur mozaik dekorasi yang dibuat dengan ketelitian tingkat tinggi, bertahtakan huruf-huruf Arab, dan asma Allah dan Muhammad yang disamarkan dalam ornamen-ornamen yang menyelimuti seluruh dinding. Warnanya coklat, menyiratkan kejayaan masa lalu, dan berkilauan diterpa mentari senja. Read the rest of this entry »

Tag:

Ramadhan di Abu Dhabi dan Dubai

DALAM bulan puasa ini, saya berkesempatan berkunjung ke Abu Dhabi dan Dubai. Seperti Anda ketahui, mereka adalah dua dari tujuh emirat yang bergabung dalam Persatuan Emirat Arab (United Arab Emirates/UAE). PEA beribu kota di Abu Dhabi, sebagai emirat yang paling besar dalam arti luasan wilayah, dan juga terkaya karena cadangan minyak yang kabarnya baru akan habis sekitar tahun 2100 nanti.

Sesaat sebelum mendarat, pramugari Etihad Airways mengingatkan semua penumpang bahwa selama bulan Ramadhan siapa pun dilarang makan dan minum di tempat umum sebelum saat iftaar (buka puasa). Di tempat-tempat tertentu di hotel berbintang yang membuka fasilitas untuk makan siang bagi non-Islam, juga terpampang pemberitahuan bahwa minuman beralkohol tidak disajikan antara waktu souhour dan iftaar.

Suasana Ramadhan memang sangat terasa di Abu Dhabi. Siang hari tidak banyak kegiatan. Banyak toko dan souk (pasar) tutup. Tidak satu pun tempat makan dan minum yang tampak terbuka. Bahkan museum pun ditutup di pagi hari. Semua jawaban adalah sama: we open after iftaar.

Pemandangan ini sangat berbeda dengan suasana Ramadhan ketika tahun lalu saya berkunjung ke Turki. Padahal, sebenarnya jumlah penduduk Muslim di Turki jauh lebih besar dibanding UAE. Di Turki, 95 persen penduduknya beragama Islam. Tetapi, Turki memang sangat sekuler. Pada bulan Ramadhan, hanya sedikit penduduk Turki yang menjalani ibadah puasa. Warung dan restoran tetap buka seperti biasa. Business as usual!

Di UAE, suasana Ramadhan sangat terasa. Padahal, sebetulnya jumlah penduduk Muslim dan non-Muslim mungkin seimbang besarnya. Pasalnya, dari total penduduk UAE yang empat juta, hanya satu juta penduduk lokal. Sisanya adalah kaum pendatang dari India, Pakistan, Iran, Filipina, China, dan lain-lain. Warga Indonesia saja jumlahnya sekitar 75.000 orang di UAE.

Tempat-tempat dengan suasana internasional, seperti bandara dan hotel berbintang, selalu membangun tenda Ramadhan bagi yang menunaikan ibadah suci. Yang dimaksud tenda Ramadhan adalah memang tenda, seperti tenda kaum Bedouin, dengan hamparan permadani dan bantalan-bantalan tersebar. Mereka yang berpuasa dapat memanfaatkan tenda ini untuk beristirahat. Banyak yang tidur pulas di tenda-tenda yang disediakan ini.

Di berbagai tempat umum, seperti lobi hotel, sering tampak nampan penuh kurma. Di sampingnya, satu teko besar berisi gahwa (kopi bumbu khas Arab) dan cangkir-cangkir kecil. Semua itu disediakan cuma-cuma untuk siapa saja yang memerlukan.

Bila Abu Dhabi adalah ibu kota pemerintahan, Dubai adalah megapolitan yang lebih besar dan merupakan pusat bisnis UAE. Mungkin analoginya sama dengan Washington DC (pusat pemerintahan) dan New York City (pusat bisnis). Suasana Ramadhan di Dubai pun persis sama.

Namun, saya sempat singgah ke International Financial Center yang juga merupakan lokasi Dubai Stock Exchange. Di lantai bawah kompleks gedung ini terdapat food court papan atas untuk melayani kebutuhan para pekerja yang berkantor di IFC. Ternyata, food court ini tetap buka di bulan Ramadhan. Semuanya beroperasi di balik tirai-tirai yang khusus dipasang selama Ramadhan. Menurut kabar, food court di IFC ini ternyata justru lebih ramai di bulan Ramadhan. Soalnya, para wisatawan yang tidak berpuasa akhirnya menemukan tempat yang bagus untuk makan siang.

Pada saat iftaar, tempat-tempat makan penuh dengan pengunjung yang berbuka puasa. Saya langsung teringat suasana buka puasa di lepau-lepau nasi kapau yang berderet di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Sekalipun agak terasa suasana “survival of the fittest” untuk mendapatkan minuman dan makanan sesegera mungkin, tetapi sangat terasa pula suasana keakraban.

Pada suatu saat, saya kebetulan sedang berada di sebuah dapur restoran sesaat setelah iftaar. Seorang juru masak yang sedang menikmati buka puasa dengan segenggam kurma serta-merta memberikan semua kurma itu ke genggaman saya, sementara ia pergi mengambil kurma lagi untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba, terasa ada segumpal besar menyumbat kerongkongan saya. Alangkah indahnya persaudaraan!

Di Abu Dhabi, saya berkunjung ke Sheikh Zayed Grand Mosque (Masjid Agung Syekh Said) di Abu Dhabi. Kunjungan ini sangat bermakna bagi saya, setidaknya karena saya merasa menjadi saksi dari sebuah sejarah yang sedang ditulis (history in the making). Masjid Agung ini baru selesai 90 persen. Diharapkan tahun 2009 akan selesai dan diresmikan.

Tidak dapat disangkal lagi, Masjid Agung Syekh Said ini adalah masjid terbesar dan terindah di dunia. Tetapi, demi penghormatan kepada Masjidil Haram di Tanah Suci Mekkah, bangunan Masjid Agung ini sengaja dibuat sedikit lebih kecil ukurannya. Tetapi, hamparannya sangat luas, dengan taman berumput hijau yang kini tengah diselesaikan. Di salah satu sudut halaman terdapat makam Syekh Said yang tidak boleh dipotret.

Tiga kubah utama masjid ini bentuknya agak mirip Sacre Coeur di Paris. Setidaknya, kesan itulah yang saya tangkap begitu melihatnya. Sayangnya, Abu Dhabi sedang musim debu saat itu sehingga permukaan kubah dari marmer putih itu tertutup debu yang kemerahan. Memotret dari jarak agak jauh pun tidak mampu menampilkan keindahan Masjid Agung ini karena ter-filter oleh debu yang cukup tebal.

Masjid Agung ini benar-benar internasional dalam berbagai aspek bangunannya. Beberapa arsitek dari berbagai bangsa mendesain eksterior maupun interior bangunan megah ini. Bahan bangunan, kontraktor, dan buruh bangunan pun diimpor dari berbagai tempat terbaik di dunia. Mutu pengerjaannya diselesaikan dengan kualitas tinggi. UAE memang dikenal dengan standar kendali mutu yang sangat tinggi.

Pualam putih yang banyak digunakan di bangunan Masjid ini diimpor dari Carrara di Italia. Ribuan tiang-tiangnya dihiasi dengan inlay marmer warna-warni dengan desain indah. Puluhan ribu meter persegi serambi masjid diselesaikan dengan mosaik marmer yang dibuat di China. Desainnya modern, namun sangat bernuansa Islami.

Kalau dari eksteriornya sudah menggetarkan, tunggu sampai Anda masuk ke bagian dalam. Di bawah cuaca panas yang menyengat, seluruh ruangan dan serambi masjid terasa sejuk karena pendingin udara yang bekerja sangat bagus. Semakin ke dalam, warna-warni semakin menghilang, diganti dengan nuansa putih dan abu-abu yang anggun.

Sebetulnya, pintu besar ke bangsal utama Masjid Agung ini baru dibuka setelah iftaar. Untungnya, permohonan saya yang mengiba kepada petugas keamanan di situ ternyata dikabulkan. Pintu dorong yang besar itu didorong oleh dua orang petugas.
Ketika pintu-pintu itu perlahan terbuka, bulu kuduk saya meremang. Lutut saya goyah. Teman yang bersama saya tidak kuasa menahan pekikannya. Allahu akbar!

Di depan sana terbentang panorama dengan keindahan yang sungguh Illahiah! Sebuah kandelabra kristal superbesar tergantung dari langit-langit yang tinggi. Bentuknya sangat indah. Ada bola-bola kristal hijau dan merah berkelap-kelip. Di bawahnya, ukiran emas berdesain unik berpendar-pendar. Kandelabra buatan Jerman seharga Rp 100 miliar itu memang pantas menghiasi masjid seindah dan seanggun ini.

Di lantai, karpet Iran tanpa sambungan seluas 5.000 meter persegi terhampar cantik. Ada 50 jenis desain terajut di sana. Karpet wol ini juga merupakan karya luar biasa karena diselesaikan oleh 200 perempuan perajin karpet dari Iran selama 12 bulan.

Sekalipun hanya beberapa menit, pemandangan itu terekam sangat kuat dalam memori saya. Mungkin sampai ajal menjemput nanti panorama memukau itu akan tetap tercetak jelas dalam benak saya. Apa pun agama Anda, bila berkesempatan, jenguklah tempat ini. Di sinilah kita semua mendapat bukti, Tuhan menciptakan manusia-manusia khusus dengan derajat kesenian tinggi yang mampu menerjemahkan keagungan Tuhan dalam bentuk karya seni.

Ramadhan kareem, Saudaraku. Selamat berpuasa!

Menikmati Indahnya Kubah Emas

Kubah masjid

Kubah masjid

Apa sih keistimewaan Mesjid Dian Al Mahri? Mengapa banyak orang ingin membuktikan kemegahan tempat ibadah yang biasa disebut Mesjid kubah emas ini? Keindahan arsitektur, lapisan emas 24 karat yang membalut kubah, dan beragam fasilitas memang membuatnya layak disebut tempat wisata religi favorit.

Sejak diresmikan pada 31 Desember 2006, Mesjid Dian Al Mahri seperti menjadi ikon baru wisata religi, selain Mesjid Istiqlal di Jakarta. Hampir sepanjang hari, puluhan bus wisata maupun kendaraan pribadi rela menembus kepadatan Jalan Raya Cinere-Meruyung. Kondisi ini semakin ramai terutama di akhir pekan atau saat musim liburan tiba.

Saking ramainya, pengunjung harus rela berjalan kaki kurang lebih satu kilometer sebelum mencapai pelataran mesjid. Maklum, tempat parkir di areal mesjid sudah tak mampu lagi menampung ratusan bus rombongan maupun kendaraan pengunjung.

Kenyataan ini dapat dijadikan gambaran bahwa mesjid ini memang menjadi buruan penggemar wisata religi khususnya di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya. Saat GHS berkunjung ke mesjid seluas 8.000 meter persegi ini, bus rombongan maupun kendaraan pribadi berplat luar Jakarta, seperti Cirebon, Bandung, dan beberapa kota di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, terparkir rapi. Read the rest of this entry »

Tag:

200 Masjid di Mekah Tidak Menghadap Kiblat

MEKAH, KOMPAS.com — Beberapa laporan dari Arab Saudi menyebutkan, sekitar 200 masjid di kota suci Mekah tidak menghadap ke arah kiblat.

Surat kabar Saudi Gazette melaporkan, Minggu (5/4), orang-orang yang melihat ke bawah dari atas gedung-gedung tinggi yang baru di Mekah menemukan, mihrab di banyak Masjid tua Mekah tidak mengarah langsung ke Kabah.

Saat menunaikan shalat, warga Muslim sedapat mungkin menghadap ke Kabah, bahkan kalau diperlukan, bisa menggunakan kompas khusus untuk mencari arah kiblat itu. Kabah tersebut terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah.

Wartawan BBC, Sebastian Usher, mengatakan, pihak berwenang belakangan melakukan pembangunan kembali kawasan di dan sekitar Masjidil Haram. Namun, Masjid-Masjid lama di Mekah tetap dipertahankan keberadaannya. Kini bila dilihat dari gedung-gedung tinggi yang baru, sejumlah warga menemukan lokasi mihrab di sebagian masjid tersebut tidak tepat arah.

Pada saat masjid-masjid tersebut dibangun, digunakan perkiraan kasar arah kiblat karena saat itu belum ada alat yang akurat. Sebagian warga mengatakan, ibadah mereka mungkin tidak sah. Namun, seorang pejabat Arab Saudi mengatakan, ibadah shalat mereka tidak akan terpengaruh. Sebagian orang menyarankan sinar laser dipancarkan dari kubah Masjidil Haram untuk menunjukkan arah kiblat yang tepat.

Presiden Resmikan Masjid Bani Umar di Graha Bintaro

JAKARTA, JUMAT — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Masjid Raya Bani Umar di Jalan Raya Graha Bintaro, Parigi Baru, Kabupaten Tangerang, Jumat (10/10) pagi. Presiden juga akan melaksanakan shalat jumat bersama 800 jemaah lainnya di masjid yang terletak di kompleks perumahan Graha Bintaro Jaya tersebut.

Pembangunan masjid berlantai tiga di lahan seluas 1,2 hektar ini memakan biaya sekitar Rp 2 miliar dan dapat menampung 1.600 jemaah. Masjid ini terbilang unik karena dibangun tanpa kubah Masjid. Fauzan Noe’man, arsitek masjid ini, mengatakan, Kubah bukanlah unsur wajib dalam bangunan masjid. Tidak punya kubah, tapi masjid ini memiliki menara setinggi 59 meter yang diklaim sebagai menara tertinggi di Tangerang.

Selain ini, di dalam kompleks masjid terdapat gedung serba guna yang dapat menampung sekitar 500 orang, klinik, serta akan dibangun sekolah untuk menampung anak-anak kurang mampu.

Menurut data dari presidensby.info, peresmian Masjid Raya Bani Umar ini bertepatan dengan hari kelahiran almarhum Jenderal TNI (Purn) Umar Wirahadikusumah. Pembangunannya diprakarsai oleh keluarga almarhum yang tergabung dalam Yayasan Bakti Djajakusumah. Umar Wirahadikusumah adalah mantan Wakil Presiden RI periode 1983-1988.

Karlinah Djaja Atmadja, istri almarhum Umar Wirahadikusumah, mengungkapkan bahwa keberadaan masjid yang nyaman digunakan untuk beribadah sudah menjadi kebutuhan bagi semua umat Islam. “Kita semua sangat mendambakan sebuah masjid yang indah, dikelilingi taman-taman yang segar dan bernilai estetis dengan arsitektur tinggi,” kata Karlinah.

Tag:

Kubah Masjid

kami menerima pembuatan kubah masjid . dari berbagai bentuk dan ukuran . manerima pesanan luar pulau .  Mengingat Kubah juga merupakan salah satu ciri khas dari sebuah masjid, Akan tetapi masing masing daerah memiliki cirikhas atau design dari kubah . Kami siap memenuhi sesuai design yang diminta contoh kubah masjid yang telah kami kerjakan antara lain :

Aktifitas pembangunan kubah masjid

Jika anda berminat silakan hubungi kami , kami senantiasa membantu sebisa kami

CV MICRO 2000

www.cvmicro2000.com

Faizalklm@gmail.com

(031) 700 456 00 / 081 83 81 781

kami terima pesanan luar pulau

Tag:

Galery
Museum Olahraga

Kubah Masjid Poltek Semarang
Kubah Emas Palembang
Untuk melihat gambar yang lainnya klik Disini

Kubah Masjid