Seperti apa? keunikan Masjid Lautze yang dikenal Masjid Tionghoa

Posted by
Masjid Lautze terletak di Jakarta Pusat, dikenal sebagai Masjid Tiong Hoa
Masjid Lautze terletak di Jakarta Pusat, dikenal sebagai Masjid Tiong Hoa

Jika kita berjalan menyusuri Jalan Lautze No. 87-88, Jakarta Pusat kita mungkin akan merasa heran jika melihat papan nama bertuliskan Yayasan Karim Oei menyelit di deretan toko daerah Pecinan di wilayah Pasar Baru, Jakarta.

Apalagi jika kita mengetahui di dalamnya ternyata ada sebuah masjid, dengan nama  Masjid Lautze. Sesuai dengan nama jalannya Jalan Lautze.

Wisata Masjid: Masjid Laksamana Cheng Hoo Surabaya

Masjid Lautze terlihat sangat unik. Tidak ada kubah masjid maupun bedug sebagaimana lazimnya sebuah masjid.

Warnanyapun lebih mirip warna bangunan Klenteng dengan dominasi warna merah darah menyapu pintu.

Interior di dalamnya pun percampuran merah dan kuning.

Mengenal salah satu Masjid terindah di Dunia

Namun, ada 3 buah kaligrafi yang asli berasal dari China.

Masjid Lautze yang berarti guru atau orang yang dihormati sengaja dibuat mirip Klenteng karena itu tidak dilengkapi dengan kubah masjid atau bedug.

Sengaja supaya tidak ingin menunjukkan masjid. Supaya yang datang tidak sungkan.

Dengan demikian, orang-orang Tionghoa merasa biasa dan familiar masuk ke sini.

Membangun Kubah Masjid Ponpes Alyassini di Pasuruan

Bahkan Pernah suatu saat ada enci-enci dengan membawa hio masuk ke dalam hendak berdoa.

Mereka mengira kelenteng. Selain itu, pengurus masjid juga mengizinkan orang non-muslim masuk ke masjid yang terletak di lantai satu dan dua Yayasan Haji Karim Oei.

Bahkan, masjid ini dilengkapi balkon di lantai dua supaya umat non-muslim bisa melihat bagaimana orang Islam shalat.

Kalau mereka gak boleh masuk kapan mau jadi Islam?

Yayasan Lautze yang saat ini diketuai Junus Jahja ini sengaja didirikan untuk melanjutkan semangat Karim Oei (1988).

Ia dikenal sebagai pionir umat Islam yang berasal dari kalangan Tionghoa.

Sepanjang hidupnya, selain menjadi pengusaha nasional yang sukses juga seorang pejuang, ia menjabat Ketua Muhamadiyah di Bangkulu..

aktif di Partai Masyumi dan menjadi Bendahara MUI.

Misi yayasan ini adalah ingin memecahkan persolan pembauran antara pribumi dan non pribumi.

Maka kami didirikanlah yayasan di sini. Masalah pembauran tersebut dinilai  belum tuntas di Indonesia.

Karena masyarakat Tionghoa masih belum bisa menerima kehadiran Islam sebagai agama dengan pengikut mayoritas.

9 penentu harga kubah masjid bisa murah sekaligus berkualitas

Contohnya Filipina dan Thailand. Orang Cina yang masuk ke Filipina tidak masalah karena mereka membaur dengan agama Katolik, sebagai mayoritas.

Begitu pula yang masuk ke Thailand, karena mereka menerima agama Budha.

Menerima tidak harus menjadi pengikut agama.

Bukan soal harus masuk Islam..

paling tidak bisa menerima agama Islam

..sebagaimana masyarakat Tionghoa menerima agama lain di luar Islam.

Kalau masuk Islam kan tergantung Allah.

Dakwah di daerah Pecinan sangat potensial.

..Saat yayasan kali pertama dibuka banyak yang antusius.

Ada yang langsung menyatakan diri Islam, bertanya-tanya soal Islam..

..dan menyatakan minatnya pada Islam.

Maka tidak mengherankan sejak berdiri pada tahun 1991 diperkirakan jemaah Masjid Lautze lebih dari seribu orang 99 %nya merupakan mualaf keturunan Tionghoa.

Saat ini dalam seminggu ada 2-3 orang yang masuk Islam.

..Yang menarik yayasan dan Masjid Lautze bukanya mengikuti jam kantor.

Dengan demikian shalat hanya saat dzuhur dan ashar saja.

Jemaatnya pun kebanyakan berasal dari karyawan di sekitar jalan Lautze.

Sedangkan  jemaah yang Tionghoa yang berasal dari Jabotebak berkumpul  pada hari Minggu.

Diisi dengan silahturahmi, ada Majelis Taklim, belajar dasar agama Islam dan sharing di antara mereka.

Sedangkan selama bulan Ramadhan, kegiatan ditambah dengan buka puasa bersama dan tarawih.

Di luar hari minggu, para jemaah biasanya diundang berbuka puasa di rumah-rumah pejabat. Ini sudah menjadi tradisi.

Ke depan, yayasan Haji Karim Oei ini akan terus melanjutkan pemecahan masalah pembauran di Indonesia.

Karena Islam sendiri, sebagaimana tercantum dalam Surat Al Hujuraat ayat 13..

menghargai toleransi dan pembauran..

Intinya Allah sengaja menciptakan bermacam-macam suku, bangsa, dan agama supaya saling mengenal.

Di mata Allah tidak ada yang lebih mulia, yang penting takwa pada-Nya.

Itulah sebabnya, yayasan yang memiliki 4 lantai ini membuka beberapa cabang.

Saat ini cabangnya sudah ada di Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Gading Serpong Tangerang, dan Surabaya.

Umumnya mereka yang meminta dibukakan cabang di daerah2.

Soalnya kalau langsung ke masjid masih malu dan sungkan.

(diedit Bisnisberbeda)

Silahkan Comment disini