CV MICRO 2000
Kubah masjid
CV.MICRO 2000

Tlp : 081 83 81 781
081234 855 844
CP: Ir. Faizal Muzamil
Email :Faizalklm@gmail.com

Archive for the ‘kubah masjid’ Category

Masjid Al-Osmani

Masjid Al-Osmani

Spesifikasi

Masjid Al-Osmani adalah sebuah masjid yang terletak di Sumatera Utara tepatnya di kota Medan. Masjid Al-Osmani juga dikenal dengan sebutan Masjid Labuhan karena lokasi Masjid Al-Osmani yang berada di di kawasan Medan Labuhan.

Masjid Al-Osmani terletak sekitar 20 kilometer sebelah utara Kota Medan dimana masjid ini merupakan masjid yang tertua di kota Medan.

Masjid Al-Osmani dibangun pada 1854 oleh Raja Deli ketujuh, yakni Sultan Osman Perkasa Alam dengan menggunakan bahan kayu pilihan.

Setelah itu pada tahun 1870 hingga 1872 masjid yang terbuat dari bahan kayu tersebut dibangun menjadi permanen oleh Sultan Mahmud Perkasa Alam yang merupakan anak Sultan Osman yang juga menjadi Raja Deli kedelapan.

Sampai saat ini, selain digunakan sebagai tempat beribadah, Masjid Al-Osmani juga digunakan sebagai tempat peringatan dan perayaan hari besar keagamaan serta tempat pemberangkatan menuju pemondokan jamaah haji yang berasal dari Medan utara.

Di Masjid Al-Osmani juga terdapat 5 makam raja deli yang dikuburkan diantaranya Tuanku Panglima Pasutan (Raja Deli IV), Tuanku Panglima Gandar Wahid (Raja Deli V), Sulthan Amaluddin Perkasa Alam (Raja Deli VI), Sultan Osman Perkasa Alam, dan Sulthan Mahmud Perkasa Alam.[1]

 

Arsitektural

Interior Masjid Al-Osmani juga didominasi oleh warna kuning seperti halnya warna sisi luarnya

Pada saat pertama kali dibangun, ukuran Masjid Al-Osmani hanyalah seluas 16 x 16 meter yang terbuat dari bahan material utama dari kayu.

Setelah itu pada tahun 1870, Sultan Deli VIII Mahmud Al Rasyid melakukan pemugaran secara besar-besaran terhadap bangunan masjid yang menggunakan jasa arsitek asal Jerman, yaitu GD Langereis.

Selain dibangun secara permanen, dengan material yang didatangkan dari Persia dan Eropa, ukuran masjid Al-Osmani juga diperluas menjadi 26 x 26 meter dimana renovasi tersebut baru selesai pada tahun 1872.

Bangunan masjid telah mengalami beberapa pemugaran namun pemugaran ini tidak menghilangkan arsitektur asli yang merupakan perpaduan bangunan Timur Tengah, Spanyol, India, China dan Melayu.

Kombinasi arsitektur dari 4 Negara tersebut misalnya pada ukiran bangunan bernuansa India, pintu masjid berornamen China, dan arsitektur bernuansa Eropa dengan berbagai ornamen yang bernuansa Timur Tengah.

Rancangan ornamen tersebut unik dengan gaya India dan kubah tembaga bersegi delapan. Kubah yang terbuat dari kuningan tersebut beratnya mencapai 2,5 ton

Masjid Al-Osmani didominasi warna kuning, dengan warna kuning keemasan yang merupakan warna kebanggaan Suku Melayu, warna tersebut menunjukkan atau diartikan kemegahan dan kemuliaan. Setelah itu dikombinasikan dengan warna hijau yang filosofnya menunjukkan keislaman.

Tag:

Masjid Rahmatan Lil-Alamin

Masjid Rahmatan Lil-Alamin

Selain dikenal megah, bersih dan gagah, Masjid Rahmatan Lil ’Alamin Ma’had Al-Zaytun (MAZ) juga diperkirakan memiliki daya tahan bangunan yang lebih lima yaitu ratusan tahun hingga puluhan abad yang setara dengan bangunan-bangunan monumental di dunia yang sebelumnya sudah terukir dalam sejarah.

Bangunan Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin merupakan induk dari semua karya besar yang monumental di ma’had ini, yang diyakini di masa mendatang akan mengukir sejarah sebagai simbol kebangkitan dan kebesaran bangsa Indonesia.

Bangunan Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin memiliki perpaduan gaya arsitektur secara menyeluruh dari semua gaya arsitektur yang ada di dunia ini yang memiliki nilai estetika universal.

Kesimpulannya adalah Ma’had Al-Zaytun memiliki bangunan dan kegiatan yang terpusat pada Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin yang dibangun menjadi kawasan pendidikan terpadu yang monumental.

Dipercaya bahwa pada masa mendatang monumen ini akan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan setara dengan bangunan-bangunan monumental dunia yang bersejarah yang tentunya juga bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.

Misalnya bangunan monumental Islam kompleks masjid Cordoba, Madinat Az-Zahra dan Istana Al-Hamra di Spanyol.

Atau bisa juga seperti bangunan-bangunan monumental Mesir, Romawi, Dinasti Cina klasik, kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang memiliki nilai sejarah tinggi dengan bangunan yang bisa bertahan hingga ratusan atau ribuan tahun.

Setiap bangunan yang didirikan di MAZ, harus memenuhi persyaratan pokok yaitu memiliki daya tahan yang lama serta aman untuk difungsikan sesuai hajat ma’had.

Setiap bangunan tersebut harus cukup kuat dan memiliki kemampuan untuk memikul pembebanan yang terjadi baik pembebanan horizontal ataupun vertikal dalam jangka waktu yang sangat lama.

Kekuatan bangunan tersebut dirancang dengan menggunakan kekuatan material (elemen-elemen) konstruksi yang berkualitas dan diproses (dikerjakan) dengan pengerjaan yang cerdas dan telaten.

Syaykh al-Ma’had AS Panji Gumilang yang merupakan grand architect dari MAZ mengungkapkan bahwa sistem kontrol bangunan dilakukan dengan sistem pengendalian sumber daya atau biaya, mutu dan waktu (BMW).

Sistem kontrol bangunan  dilakukan sejak awal baik mutu bahan bangunan, mutu sumber daya manusia serta mutu peralatan bangunan.

Proses dan sistem pembangunan di Ma’had Al-Zaytun termasuk menarik karena semua dilakukan dengan tenaga ma’had sendiri yang sudah teruji profesional, serta memegang prinsip ibadah, amanah dan akhlak.

Misalnya mulai dari planning, proses pengerjaan, hingga pemeliharaan yang semuanya dilakukan dalam 1 manajemen internal yang terkendali dan terpadu 24 jam setiap harinya atau tanpa batas waktu.

Dengan manajemen pembangunan internal yang terpadu seperti ini maka tentu saja biaya untuk proses pembangunan bisa ditekan hingga 1:3 namun kualitas bangunan bisa tetap terjamin dengan baik.

Untuk memperkuat perencanaan dalam perkembangan selanjutnya dalam bidang arsitektur maka Tim Ma’had Al-Zaytun yang dipimpin oleh Syaykh Al-Ma’had AS Panji Gumilang dengan tim yang beranggotakan M Yusuf Rasyidi, M Natsir Abdul Qadir, dan Ir Bambang Abdul Syukur yang melakukan studi banding ke Andalusia (Spanyol) dan Eropa.

Studi banding ini dilakukan berkaitan dengan masalah pendidikan pada umumnya, serta untuk menelusuri lengkung-lengkung arsitekur dunia yang memiliki keindahan dan nilai sejarah yang tinggi.

 

Kubah (Dome)

Bangunan kubah (dome) dari dalam masjid dilapisi dengan menggunakan bahan emas dengan makna atau harapan supaya bangsa Indonesia memiliki kualitas seperti emas.

Kunjungan itu telah pula memperluas wawasan dan memompakan spirit yang lebih besar serta meresapkan sentuhan-sentuhan keindahan karya-karya besar arsitektur klasik dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ma’had ini.

Semua masukan yang diberikan menambah kekayaan ide arsitektur yang memiliki estetika dan bernilai tinggi yang bersifat universal yang dirancang dalam bangunan gedung-gedung di Ma’had Al-Zaytun termasuk dengan rancangan bangunan Masjid Rahmatan Lil’Alamin.

Para perencana dan arsitek di MAZ bisa disejajarkan dengan para arsitek Abbasiyah yang membangun kompleks Masjid Cordoba, Madinat Az-Zahra dan Istana Al-Hamra di Spanyol maupun pembuatan parit (khandaq) yang dibuat oleh Salman Al-Farisi yang dibuat mengelilingi kota Madinah.

Hal ini dikarenakan bangunan di Ma’had ini memiliki konstruksi dan arsitektur dengan kualitas bangunan yang sejajar.

Hasil karya dari tim perancang pembangunan MAZ ini kelak akan menjadi sejarah yang sangat penting yang di masa mendatang nanti diharapkan akan menjadi bukti sejarah dari kebangkitan bangsa Indonesia dan umat Islam sebagaimana karya dari arsitek Abbasiyah dan Salman Al-Farisi yang dicatat menurut jamannya masing-masing.

 

Maket

Masjid Al-Hayat merupakan masjid pertama yang dibangun untuk kesiapan I’dadi berlantai 3 yang dibangun di atas tanah seluas 5.000 m2 dengan daya tampung sekitar 7 ribu jamaah.

Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 1 Januari 1999 yang proses pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar 3 bulan.

Setelah itu jumlah pertumbuhan santri dan penghuni MAZ meningkat dengan pesat sehingga hal ini membuat Masjid Al-Hayat sudah tidak bisa menampung jamaah lagi terutama pada hari Jumat.

Hal ini membuat MAZ harus membangun sebuah masjid baru secepatnya yang kemudian diberi nama Masjid Rahmatan Lil ’Alamin.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin berdiri di atas tanah 6,5 hektar dengan ukuran luas 99 m x 99 m yang berlantai enam dan memiliki daya tampung sebanyak 150 ribu jamaah.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin merupakan masjid terbesar di dunia yang proses pembangunannya membutuhkan biaya sebesar 14 juta Dollar AS (sekitar Rp 136 Milyar).

Nantinya bangunan Al-Hayat akan difungsikan sebagai perpusatakaan MAZ setelah Masjid Rahmatan Lil ’Alamin digunakan.

Peletakan batu asas masjid Rahmatan Lil ’Alamin dilakukan oleh R Nuriana, Gubernur Jawa Barat saat itu pada tahun baru Hijriah 1 Muharam 1421 H.

Pembangunan dari Masjid Rahmatan Lil ’Alamin bisa disebut sebagai monumen kebesaran umat Islam di Indonesia dan satu tonggak sejarah pembangunan sebagai simbol umat Islam.

Selain memiliki daya tampung jamaah yang banyak dengan areal yang luas, Masjid Rahmatan Lil ’Alamin juga memiliki seni artistik yang sangat tinggi.

Belum lagi ditambah dengan adanya kubah (dome) yang berukuran besar dan dilapisi dengan bahan yang seperti emas dengan makna supaya Indonesia bisa tampil dengan kualitas seperti emas.

Pelaksanaan acara peletakan batu asas masjid ini sangat meriah karena dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, seluruh Kepala Daerah Tingkat dua Jawa Barat, berbagai kelompok pengajian dari seluruh Indonesia, para undangan dari Malaysia dan Singapura, serta ribuan jamaah yang ikut berpartisipasi dengan bersodaqoh untuk membantu proses pembangunan Masjid Rahmatan Lil ’Alamin.

Setelah itu peletakan batu pertama dari Masjid Rahmatan Lil ’Alamin ini dilakukan setelah melewati 100 hari dari dimulainya peletakan batu asas.

Hal ini dilakukan dengan makna bahwa selama 100 hari setiap tamu yang berkunjung ke MAZ diperbolehkan untuk ikut memiliki andil dalam peletakan batu asas.

 

Monumental

Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia sehingga sudah tentu bahwa pembangunan dari masjid harus bisa menggambarkan ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang diuraikan dalam filosofi pembangunan masjid Rahmatan Lil ’Alamin yang disampaikan oleh Syaykh al-Ma’had Dr Abdussalam Panji Gumilang.

Bangunan masjid ini memiliki luas 99 x 99 m yang sesuai dengan Asmaul Husna atau filosofi dari sifat-sifat Allah yang berjumlah 99.

Angka ini tidak akan bisa berubah walau diputar ke arah mana saja dan akan selalu memiliki nilai yang sama yaitu 99.

Sedangkan enam lantai masjid memiliki filosofi Arkanul Iman yaitu rukun iman yang berjumlah 6.

Secara keseluruhan keenam lantai tersebut memiliki ketinggian 33 meter yang disesuaikan dengan filosofi jumlah tasbih, tahmid dan takbir setelah ibadah sholat.

Sedangkan tiang dari masjid juga disesuaikan dengan filosofi Arkanul Islam atau rukun Islam yang berjumlah 5 dengan adanya tinggi tiang masing-masing lantai lima meter.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin memiliki kubah yang besar serta kubah kecil sebanyak 4 buah yang disesuaikan dengan filosofi bahwa Indonesia mengenal berbagai madzhab.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin juga memiliki menara setinggi 68 meter dengan lantai seluas 24 x 24 m yang disesuaikan dengan filosofi Al-Khulafa al-Rasyidun.

 

Arsitektur Dunia

Pelaksanaan pembangunan masjid Masjid Rahmatan Lil ’Alamin dilakukan dengan sangat teliti, misalnya untuk sistem pondasi yang dibuat dengan sistem pondasi kapal.

“Sebenarnya, nama resminya raft foundation atau pondasi rakit. Namun, kalau rakit maknanya kecil maka kami sempurnakan menjadi pondasi kapal,” ungkap Ir Djamal M Abdat, Pimpinan Tanmiyah MAZ.

 

Kubah Kecil

Pada bulan Oktober Syaykh al-Ma’had langsung memimpin tim yang beranggotakan M Yusuf Rasyidi, M Natsir Abdul Qadir dan Ir Bambang T Abdul Syukur lalu mengadakan perjalanan ke Spanyol untuk melihat langsung model arsitektur di Al-Hambra, Cordoba.

Setelah itu mereka melakukan perjalanan ke Mesir untuk melihat model bangunan masjid-masjid bersejarah lain yang memiliki nilai arsitektur yang tinggi.

Semua gaya arsitektur dipertimbangkan secara matang dalam pengaplikasiannya dimana gaya tersebut harus memiliki nilai estetika secara luas namun tidak antipati ataupun lebih condong pada suatu etnik local tertentu.

Syaykh al-Ma’had selalu berpesan bahwa tidak ada dikotomi arsitektur Islam, tradisional atau gothic.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin memiliki gaya arsitektur yang dibuat dengan memadukan model arsitektur di seluruh dunia.

Hal ini dilakukan karena Masjid Rahmatan Lil ’Alamin akan menjadi sebuah masjid monumental karya umat Islam di abad 21 ini yang nantinya diharapkan akan menjadi rahmat bagi semua orang.

Gaya arsitektur Masjid Rahmatan Lil ’Alamin  merupakan perpaduan yang menyeluruh dari semua gaya arsitektur yang ada di dunia ini.

Rencananya Masjid Rahmatan Lil ’Alamin ini akan dilapisi oleh granit, mulai dari dinding masjid hingga seluruh lantainya.

Syaykh al-Ma’had menjelaskan bahwa Masjid Rahmatan Lil ’Alamin membutuhkan granit sekitar 70.000 meter persegi.

Masjid Rahmatan Lil ’Alamin diharapkan akan sesuai dengan namanya yaitu menebar kasih dan rahmat sehingga tercipta hubungan silaturahmi yang tiada putusnya.

 

Kerangka

Sistem seperti ini terbukti memiliki banyak keuntungan dan keunggulan jika dibandingkan dengan sistem proyek pembangunan yang lazim di luar MAZ.

Selain untuk menjaga mutu juga bisa untuk menghemat biaya. Untuk setiap bangunan, biayanya hanya sepertiga dari biaya bangunan jika itu dikerjakan oleh kontraktor luar.

Selain itu juga unggul dalam segi efisiensi waktu. Misalnya adalah perencanaan Masjid Al-Hayat yang hanya membutuhkan waktu satu pekan sedangkan pelaksanaan pembangunannya pun hanya 100 hari.

Dengan penghematan tersebut, dana bisa dipergunakan untuk membeli bahan-bahan material yang berkualitas.

Semua komponen bangunan seperti kusen, daun pintu, furniture dan khususnya isi bangunan (kursi, meja, papan tulis dan partisi) dikerjakan sendiri.

Dengan sistem manajemen seperti itu, setiap bangunan yang didirikan di MAZ memenuhi persyaratan pokok berdaya tahan lama. Setiap bangunan itu harus cukup kuat dan berkemampuan memikul beban dalam jangka waktu lama.

Kekuatan tersebut dirancang dengan penggunaan kekuatan material (elemen-elemen) konstruksi yang berkualitas dan proses pengerjaan yang cerdas dan telaten.

 

Pengadaan dan Pemanfaatan Material

Kualitas bangunan juga dimulai dari perencanaan material. Kekuatan bangunan bergantung kepada kekuatan elemen-elemen (material) konstruksi bangunannya.

Untuk bangunan yang diprogram untuk bisa bertahan selama berabad-abad lamanya maka bahan-bahan dasar bangunan tersebut juga harus berkualitas.

Sejak awal harus dilakukan control mutu bahan-bahan material tersebut mulai dari pengadaan hingga pemanfaatan untuk menjamin kualitas dari bahan-bahan material tersebut.

Material konstruksi yang digunakan meliputi material baja tulangan, baja profil dan material beton yaitu campuran material pasir, semen, air dan kerikil.

Sedangkan material arsitektur meliputi material untuk tangga dan lantai seperti keramik, untuk dinding berupa batu, kayu, cat, kayu pintu, kusen, kayu pintu, kaca dan jendela.

Adapula material untuk plafond seperti gypsum, tripleks, serta material atap berupa aluminium dan genteng.

Material plumbing meliputi instalasi pipa-pipa air bersih dan air kotor, kran wastafel, pipa hidrant, kloset, dan sebagainya.

Dan untuk material elektrikal meliputi instalasi pipa-pipa listrik, kabel-kabel dan lampu-lampu.

Untuk baja konstruksi, digunakan baja tulangan dan baja profil yang masih harus didatangkan dari Jepang, Korea, Rusia dan Polandia karena sebelumnya pernah dicoba menggunakan baja WF lokal namun hasilnya sangat tidak memuaskan karena belum apa-apa sudah melengkung.

Baja tulangan yang digunakan terdiri dari ukuran diameter mulai 6 mm sampai 32 mm. Sedangkan untuk baja profil menggunakan bentuk-bentuk seperti sayap lebar (wide flange) memiliki dimensi tinggi 200 mm sampai 450 mm, Canal Cnp memiliki dimensi tinggi mulai 75 mm sampai 150 mm, siku dengan ukuran 30 mm sampai 100 mm dan juga plat baja berukuran tebal mulai 2 mm sampai 15 mm.

Sedangkan kekuatan lantai bangunan menggunakan pelat lantai beton bertulang yang memiliki kualitas beton 300 kg per cm persegi.

Pelat lantai tersebut dipikul oleh balok lantai dengan menggunakan baja profil sayap lebar (wide flange) dengan kekuatan tegangannya bernilai 4.100 kg per cm persegi.

Semua pengadaan material berupa bahan baku diolah sendiri hingga menjadi bahan material jadi.

Misalnya untuk keperluan besi yang dibeli bahan baku, lalu dipabrikasi sendiri dan di-erection sendiri.

Dalam pabrikasi baja baik pemotongan, pengelasan maupun pons (pelubangan) dan rolling plat baja seluruhnya menggunakan teknologi Ma’had sendiri.

Teknologi pembesian menggunakan peralatan yang disebut bar cutter dan bar bending machine untuk membengkokkan dan memotong besi tulangan sesuai dengan kebutuhan.

Tag:

Masjid istiqlal

Masjid istiqlal

Arsitektur

Masjid Istiqlal yang merupakan masjid terbesar di Indonesia diharapkan bisa menampung jamaah dalam jumlah yang sangat besar.

Maka dari itu arsitektur masjid Istiqlal menerapkan prinsip minimalis dengan pertimbangan bahwa  masjid ini berada di Indonesia yang memiliki iklim tropis.

Masjid Istiqlal dirancang supaya udara bisa bersirkulasi dengan bebas sehingga ruangan masjid tetap sejuk, sedangkan jamaah terbebas dari panas matahari dan hujan.

Ruangan shalat berada di lantai utama dan terbuka yang sekelilingnya diapit oleh plaza atau pelataran terbuka di kiri-kanan bangunan utama dengan tiang-tiang dengan bukaan lowong yang lebar di antaranya yang dimaksudkan untuk mempermudah penerangan alami serta peredaran sirkulasi udara.

 

Gaya arsitektur

Masjid Istiqlal dibangun dengan gaya arsitektur Islam modern internasional dengan menerapkan bentuk-bentuk geometri sederhana seperti persegi, kubus serta kubah bola dalam ukuran raksasa supaya menghasikan kesan agung dan monumental.

Masjid ini juga dibangun dengan bahan pilihan yang bersifat netral, kokoh, minimalis, serta sederhana yaitu marmer putih dan baja stainless steel (anti karat).

Masjid  Istiqlal juga memiliki ragam hias ornamen masjid yang bersifat sederhana namun tetap terlihat elegan, yaitu pola geometris berupa ornamen logam krawangan (kerangka logam berlubang) berpola kubus, lingkaran atau persegi.

Fungsi dari ornamen-ornamen ini adalah sebagai jendela, penyekat atau lubang udara yang juga berfungsi sebagai unsur estetik dari bangunan masjid.

Pagar langkan pada tepi balkon di setiap lantai masjid serta pagar tangga juga terbuat dari bahan baja antikarat.

Bagian dalam kubah dan langit-langit masjid juga dilapisi dengan kerangka baja antikarat. 12 pilar utama penyangga kubah juga dilapisi dengan lempengan baja antikarat.

Bangunan masjid Istiqlal sangat luas karena masjid ini bisa mememiliki daya tampung jamaah hingga 200 ribu orang dengan jumlah ideal sebanyak 120 ribu orang jamaah.

Masjid Istiqlal memiliki gaya arsitektur yang modern dimana para jamaah dan wisatawan yang berkunjung ke masjid Istiqlal bisa melihat konstruksi kokoh bangunan masjid yang didominasi oleh batuan marmer pada lantai, tiang-tiang, tangga, dan dinding serta baja antikarat pada kubah masjid, tiang utama, plafon,  puncak menara, dinding, tempat wudhu, pintu krawangan serta pagar keliling halaman.

Masjid Istiqlal merupakan tempat ibadah sekaligus obyek wisata religi, pusat aktivitas syiar Islam dan pusat pendidikan.

Jamaah dan wisatawan yang berkunjung ke masjid Istiqlal bisa melihat keunikan arsitektur masjid yang merupakan perpaduan 3 gaya arsitektur sekaligus yaitu gaya arsitektur Indonesia, Timur Tengah dan Eropa.

Gaya arsitekur Indonesia bisa dilihat dari bangunan masjid yang bersifat terbuka dengan maksud supaya sirkulasi udara bisa berjalan dengan baik dan lancar karena  sesuai dengan iklim tropis.

Setelah itu bagian dalam kubah masjid dihiasi dengan kaligrafi yang merupakan hasil adopsi dari arsitektur Timur Tengah.

Bentuk tiang dan dinding yang kokoh dari masjid Istiqlal bisa disebut sebagai pengaruh dari gaya arsitektur Eropa atau Barat.

Gaya arsitektur masjid Istiqlal merupakan hasil dari perpaduan serapan berbagai budaya dengan komposisi yang harmonis yang diharapkan bahwa hal ini menunjukkan Indonesia menghargai berbagai budaya yang berbeda dimana hal ini merupakan potensi untuk membangun harmoni dan toleransi umat beragama.

 

Simbolisme

Masjid Istiqlal memiliki rancangan arsitektur yang mengandung angka dan ukuran yang memiliki lambing dan makna tertentu.

Setidaknya ada 7 gerbang untuk memasuki ruangan dalam masjid yang masing-masing gerbangnya dinamai menurut Al-Asmaul-Husna atau nama-nama Allah yang mulia dan terpuji.

Angka 7 melambangkan 7 lapis langit dalam kosmologi alam semesta Islam dan 7 hari dalam satu minggu.

Tempat wudhu berada di lantai dasar masjid, sedangkan pelataran utama dan ruangan utama terletak di lantai satu yang ditinggikan.

Bangunan masjid Istiqlal terdiri atas 2 bangunan yaitu bangunan utama dan bangunan pendamping yang memiliki ukuran yang lebih kecil.

Bangunan pendamping yang berukuran lebih kecil ini berfungsi sebagai tempat tambahan untuk beribadah sekaligus sebagai tangga.

Bangunan utama ini dimahkotai kubah dengan bentang diameter sebesar 45 meter. Makna dari angka “45″ melambangkan tahun 1945, yaitu tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kemuncak atau mastaka kubah utama dimahkotai ornamen baja antikarat dengan simbol Islam yang berbentuk Bulan sabit dan bintang.

Kubah utama masjid ini ditopang 12 tiang ruang ibadah utama yang disusun melingkar pada tepi dasar kubah yang dikelilingi 4 tingkat balkon.

Angka “12″ yang dilambangkan oleh 12 tiang menunjukkan makna hari kelahiran nabi Muhammad yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal.

Selain itu angka ini juga melambangkan 12 bulan dalam penanggalan Islam (termasuk penanggalan Masehi) dalam masa 1 tahun.

Empat tingkat balkon dan satu lantai utama melambangkan angka “5″ yang melambangkan lima Rukun Islam sekaligus melambangkan Pancasila, falsafah kebangsaan Indonesia. Tangga terletak di keempat sudut ruangan menjangkau semua lantai. Pada bangunan pendamping dimahkotai kubah yang lebih kecil berdiameter 8 meter.

2 bangunan masjid yakni bangunan utama dan bangunan pendamping beserta dengan kubah utama dan kubah pendamping, melambangkan angka “2″ atau dualisme yang memiliki makna saling berdampingan dan melengkapi antara bumi dan langit, kepentingan dunia dan akhirat, lahir dan bathin, serta dua bentuk hubungan yang sangat penting bagi umat Islam yaitu Hablum minallah (hubungan dengan Tuhan) dan Hablum minannaas (hubungan dengan sesama manusia).

Hal ini sesuai dengan sifat agama Islam yang lengkap yang mengatur baik urusan sosial kemasyarakatan serta urusan keagamaan.

Agama Islam tidak hanya menitik beratkan pada masalah ibadah dan akhirat saja namun juga memperhatikan urusan duniawi; kesejahteraan, keadilan dan kepedulian sosial, hukum, ekonomi, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kehidupan sehari-hari umat muslim.

Rancangan interior masjid Istiqlal minimalis dan sederhana dengan hiasan minimal berupa ornamen geometrik yang terbuat dari bahan baja antikarat.

Sifat gaya arsitektur dan ragam hias geometris yang minimalis, sederhana, dan bersih ini mengandung makna bahwa dalam kesederhanaan terkandung keindahan.

Pada dinding utama yang menghadap kiblat terdapat mimbar dan mihrab di tengahnya. Pada dinding utama terdapat ornamen logam bertuliskan aksara Arab Allah di sebelah kanan dan nama Muhammad di sebelah kiri sedangkan pada bagian tengahnya terdapat kaligrafi Arab Surah Thaha ayat ke-14.

Seluruh ornamen logam baja antikarat sengaja didatangkan dari Jerman. Pada mulanya direncanakan menggunakan bahan marmer yang didatangkan dari Italia seperti Monumen Nasional.

Namun demi penghematan biaya dan untuk mendukung industri marmer lokal maka akhirnya diambil keputusan bahwa bahan marmer diambil dari Tulungagung di Jawa Timur.

Struktur bangunan utama dihubungkan dengan koridor dan emper yang mengelilingi pelataran terbuka yang luas.

Teras besar terbuka ini berukuran seluas 29.800 meter persegi, berupa pelataran berlapis tegel keramik berwarna merah bata yang disusun sesuai shaf shalat yang terletak pada sisi dan belakang gedung utama.

Jika arsitektur masjid Islam Arab, Turki, Persia dam India memiliki banyak menara maka masjid Istiqlal hanya memiliki 1 menara yang melambangkan Allah yang Maha Esa.

Sedangkan Struktur menara berlapis marmer berukuran tinggi 6.666 cm (66,66 meter), melambangkan 6.666 ayat dalam persepsi tradisional dalam Al Quran.

Setelah itu kemuncak yang memahkotai menara terbuat dari kerangka baja setinggi 30 meter melambangkan 30 juz’ dalam Al Quran, maka tinggi total menara adalah 96,66 meter.

Di masjid Istiqlal terdapat bedug raksasa yang terbuat dari dari sebatang pohon kayu meranti merah yang berusia sekitar 300 tahun  yang berasal dari pulau Kalimantan.

Masjid Istiqlal dikenal memiliki bangunan yang megah dimana luas bangunannya hanya mencapai 26% dari kawasan seluas 9.32 hektar, sedangkan sisanya adalah pertamanan dan halaman.

 

Gedung utama dan gedung pendukung

Masjid Istiqlal memiliki daya kapasitas jamaah sebanyak 200 ribu orang yang terdiri dari:

  • Ruang shalat utama dan balkon serta sayap memuat 61.000 orang.
  • Ruang pada bangunan pendahuluan memuat 8.000 orang.
  • Ruang teras terbuka di lantai 2 memuat 50.000 orang.
  • Semua koridor dan tempat lainnya memuat 81.000 orang.

 

Pintu masuk

Masjid Istiqlal memiliki 7 pintu gerbang masuk ke dalam masjid dimana masing-masing pintu tersebut diberi nama berdasarkan Asmaul Husna.

Dari ketujuh pintu tersebut terdapat 3 pintu yaitu Al Fattah, As Salam dan Ar Rozzaq adalah pintu utama. Ketujuh pintu itu adalah:

  • Al Fattah (Gerbang Pembuka)
  • Al Quddus (Gerbang Kesucian)
  • As Salam (Gerbang Kedamaian)
  • Al Malik (Gerbang Raja)
  • Al Ghaffar (Gerbang Ampunan)
  • Ar Rozzaq (Gerbang Rezeki)
  • Ar Rahman (Gerbang Pengasih)

 

Gedung utama

Mihrab dan mimbar di ruang utama

Tinggi: 60 meter

Panjang: 100 meter

Lebar: 100 meter

Tiang pancang: 2.361 buah

 

Kubah besar

Kubah masjid Istiqlal memiliki diameter 45 meter yang terbuat dari kerangka baja antikarat yang diimpor dari Jerman Barat dengan berat 86 ton, sedangkan pada bagian luar dilapisi dengan bahan keramik.

Diameter 45 meter merupakan simbol penghormatan dan rasa syukur atas kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945 sesuai dengan nama Istiqlal itu sendiri.

Sedangkan pada bagian bawah sekeliling kubah terdapat kaligrafi Surat Yassin yang ditulis oleh K.H Fa’iz seorang Khatthaath senior dari Jawa Timur.

Dari luar atap bagian atas kubah dipasang penangkal petir berbentuk lambang Bulan dan Bintang yang terbuat dari stainless steel dengan diameter 3 meter dan berat 2,5 ton.

Dari dalam kubah di topang oleh 12 pilar berdiameter 2,6 meter setinggi 60 meter, dimana ke 12 buah pilar ini adalah simbol angka kelahiran nabi Muhammad SAW yaitu 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 20 April 571 M.

Seluruh bagian di gedung utama ini dilapisi marmer yang didatangkan langsung dari Tulungagung seluas 36.980 meter persegi.

 

Gedung pendahuluan

Tinggi: 52 meter

Panjang: 33 meter

Lebar: 27 meter

Bagian gedung pendahuluan memiliki 5 lantai yang berada di belakang gedung utama yang diapit oleh 2 sayap teras. Luas lantainya adalah 36.980 meter persegi yang dilapisi dengan 17.300 meter persegi marmer.

Jumlah tiang pancangnya sebanyak 1800 buah. Di atas gedung tersebut terdapat sebuah kubah kecil, fungsi utama dari gedung ini yakni setiap jamaah bisa menuju gedung utama secara langsung. Selain itu juga bisa dimanfaatkan sebagai perluasan tempat shalat bila gedung utama penuh.

 

Menara

Tinggi tubuh menara marmer: 66.66 meter = 6.666 cm

Tinggi kemuncak (pinnacle) menara baja antikarat: 30 meter

Tinggi total menara: sekitar 90 meter

Diameter menara 5 meter

Fungsi dari bangunan menara yang meruncing ke atas adalah sebagai tempat Muadzin mengumandangkan adzan. Sedangkan pada bagian atasnya terdapat pengeras suara yang bisa menyuarakan adzan ke kawasan sekitar masjid.

Pada bagian ujung atas menara, berdiri pinnacle (kemuncak) yang terbuat dari besi baja yang menjulang ke angkasa dengan tinggi 30 meter sebagai simbol dari jumlah juz dalam Al-Quran. Kemuncak baja dan menara ini membentuk tinggi total menara sekitar 90 meter.

Puncak menara yang meruncing dirancang berlubang-lubang terbuat dari kerangka baja tipis. Angka 6.666 sendiri adalah simbol dari jumlah ayat yang terdapat dalam AL- Quran.

Tag:

Masjid Agung Baiturrahim Singkil

Masjid Agung Baiturrahim Singkil

Masjid Agung Baiturrahim yang berada di Pusat Kota Singkil, Ibukota Kabupaten Aceh Singkil, adalah Masjid pertama dan yang paling tua.

Sebelum bernama Masjid Agung Baiturrahim, masjid ini bernama Masjid Jamik Baiturrahim yang dibangun pada tahun 1256 H/1836 M di Singkil lama sebelum akhirnya dipindahkan ke Singkil baru pada tahun 1909.

Masjid Agung Baiturrahim sempat mengalami renovasi pada masa kolonial Belanda dan diperluas pada tahun 1953. Pada mulanya Masjid Agung Baiturrahim berukuran 17 m x 17 m dengan 1 kubah, lalu ukurannya berubah menjadi 20 m x 30 m yang ditambah dengan adanya 1 kubah kecil pada sebelah timur masjid.

Pada tanggal 28 Maret 2005 Masjid Agung Baiturrahim mengalami kerusakan berat yang disebabkan oleh gelombang pasang dan gempa bumi.

Lalu pada tanggal 7 Mei 2005 dibentuk Panitia Pembangunan Masjid Baiturrahim yang ditugaskan khusus untuk memperbaiki dan merehabilitasi masjid yang rusak supaya bisa dipergunakan sekaligus merencanakan pembangunan masjid baru sebagai pengganti masjid yang rusak.

Desain baru dari bangunan masjid memiliki ukuran 37 m x 37 m dengan empat menara tinggi, empat menara kecil dan satu kubah yang besar.

Desain bangunan baru Masjid berukuran 37 x 37 m dengan 4 menara tinggi, 4 menara kecil dan satu kubah besar serta 4 Kubah kecil. Kubah besar, atap dan ornamennya diupayakan supaya terlihat mirip dengan bentuk masjid yang dibangun pada tahun 1909.

Masih dalam masa kolonial Belanda, pada tahun 1328 H/1909 M, atas gagasan Perkasa Raja Singkil, Datuk Abdurrauf bersama rakyat membangun masjid yang lebih besar, menggantikan masjid lama yang sudah tidak memungkinkan untuk menampung jamaah lagi.

Masjid Agung Baiturrahim dibangun di sebelah timur rumah datuk dengan konstruksi bangunan yang terbuat dari kayu kapur, meranti, rasak, beratap seng, dan lantai beton.

Masjid Agung Baiturrahim telah menggunakan kubah sebagai bagiannya, dimana pada bagian tengah masjid didirikan sebuah tiang beton untuk menopang kubah.

Dekorqasi, arsitektur masjid, serta ornamen interior dan eksterior menggunakan bahan kayu, diukir relif dan kaligrafi berciri desain Melayu Kuno dan Timur Tengah.

Setelah itu dibangun pula sebuah sumur bor di perkarangan masjid untuk kebutuhan bersuci bersamaan dengan pembangunan masjid.

Hingga saat ini sumur bor tersebut masih bisa berfungsi dengan baik walaupun sumur tersebut sudah berusia 100 tahun lebih.

Sepanjang sejarah, Masjid Agung Baiturrahim mampu memberikan spirit kepada masyarakat Singkil dalam membangun negerinya, upaya untuk melepaskan diri dari kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan dan ketertinggalan. Lebih dari itu, Masjid Agung Baiturrahim secara diam-diam telah dipergunakan untuk mengatur strategi melawan penjajah pada masa penjajahan Belanda.

Selama masa kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Singkil telah mengalami perubahan status hingga beberapa kali, mulai dari kewedanaan hingga kabupaten.

Akan tetapi fungsi dan status Masjid Baiturrahim tidak pernah mengalami perubahan. Masjid Agung Baiturrahim tetap berfungsi sebagai masjid pemerintahan yang sangat berjasa dalam melahirkan dan mengisi pembangunan di negeri yang diberi nama Aceh Singkil ini.

Tag:

Masjid Agung Baitul Makmur

Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh

Masjid Agung Baitul Makmur merupakan masjid yang termegah dan terbesar di kawasan pantai barat Kabupaten Aceh Barat, provinsi Aceh, Indonesia.

Masjid Agung Baitul Makmur terletak di Desa Seuneubok, Kecamatan Johan Pahlawan yang memiliki arsitektur bangunan yang memadukan Asia, Timur Tengah, dan Aceh serta pemilihan warna cokelat cerah yang dikombinasikan dengan warna merah bata di kubah masjid.

Ciri khas dari Masjid Agung Baitul Makmur yang bisa dilihat secara kasat mata adalah adanya 3 kubah utama yang diapit 2 kubah menara air yang memiliki ukuran yang lebih kecil.

Bentuk kepala semua kubah dari Masjid Agung Baitul Makmur sama, yaitu bulat dengan ujung lancip, khas paduan arsitektur Asia dan Timur Tengah.

Kombinasi antara keluasaan bangunan dan keindahan arsitektur yang membentuk satu struktur kemegahan telah menjadikan Masjid Agung Baitul Makmur masuk ke dalam 100 Masjid Terindah di Indonesia, sebuah buku yang disusun oleh Teddy Tjokrosaputro & Aryananda yang diterbitkan oleh PT Andalan Media, Agustus 2011 setebal 209 halaman.

Arsitektur

Bangunan Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh tampak sangat menonjol dengan gaya arsitektur perpaduan Timur Tengah, Asia, dan Aceh serta pemilihan warna cokelat cerah yang dikombinasikan dengan warna merah bata di kubah masjid.

Ciri khas masjid yang bisa dilihat secara kasat mata adalah adanya 3 kubah utama yang diapit oleh 2 kubah menara air berukuran lebih kecil. Bentuk kepala semua kubah sama, yaitu bulat berujung lancip, khas paduan arsitektur Asia dan Timur Tengah.

Masjid Agung Baitul Makmur akan dilengkapi oleh 2 menara baru yang hingga saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Nantinya menara tersebut akan membuat Masjid Agung Baitul Makmur terlihat lebih megah dan bisa berfungsi sebagai landmark wilayah setempat.

Keistimewaan yang lain dari Masjid Agung Baitul Makmur terletak pada pintu gerbang masjid yang berdiri sendiri dengan jarak beberapa meter Masjid Agung Baitul Makmur yang terlihat sangat anggun.

Seakan-akan gerbang Masjid Agung Baitul Makmur menegaskan bahwa siapa pun yang memasuki gerbang akan menjumpai pemandangan yang sangat indah.

Di dalam masjid terlihat 2 konsep ruang yang berbeda. Pertama, yaitu pengunjung masjid akan disambut oleh ruangan yang memiliki banyak tiang penyangga lantai 2 sebagai mezzanine.

Pada bagian tengah terdapat ruang lapang yang terasa sangat lega dengan ornamen lampu hias tepat di tengahnya.

Bentuk mihrab dari Masjid Agung Baitul Makmur terinspirasi dari gaya arsitektur Timur Tengah yang terlihat sangat indah dan didominasi oleh warna cokelat dengan nuansa keemasan khas material perunggu dengan ornamen khas Islam. Pada saat menatapnya anda akan menangkap kesan yang sejuk dan mewah.

Tag:

Masjid Ar-Rahma Ukraina

Masjid Ar-Rahma Ukraina

Masjid Ar-Rahma dibangun di Kawasan Tatarka di bukit Shchekavitsya, dimana lokasi ini adalah kawasan komunitas muslim Tatar di kota Kiev.

Sebenarnya pada 4 kota penyelenggara Piala Eropa 2012 di Ukraina, sudah terdapat masjid-masjid besar misalnya Masjid Jami Ahat di Donetsk.

Sejarah masjid Ar-Rahma diawali pada tahun 1993 dimana pada saat itu muslim kota Donetsk membentuk sebuah yayasan yang dinamakan Bintang Nabi (Star of the Prophet) lalu 1 tahun kemudian yayasan tersebut membuka jalan bagi berdirinya Masjid Ibnu Fadlan yang merupakan masjid pertama di kawasan itu.

Bisa dikatakan bahwa pembangunan Masjid Ar-Rahma cukup menarik karena banyak perwakilan dan duta besar negara sahabat yang ikut serta dalam upacara peletakan batu pertama, proses pembangunan sampai peresmian masjid Ar-Rahma.

Salah satu hal yang cukup menarik adalah Duta Besar Irak yang mengunjungi proyek pembangunan masjid Ar-Rahma, bukan hanya berkunjung tapi juga ikut memanjat ke atas tembok masjid yang sedang dibangun untuk turut serta memasang bata di lokasi tersebut.

Hasil donasi muslim kota Kiev digunakan untuk pembangunan masjid Ar-Rahma. Setelah pembangunan tahap pertama selesai dilaksanakan, masjid pertama di kota Kiev ini memulai penyelenggaraan peribadatan dengan penyelenggaraan sholat fardhu Jum’at di tahun 1998.

Pada tanggal 3 Desember 2000 Masjid Ar-Rahma secara resmi dibuka untuk umum dimana pada saat itu bertepatan dengan hari perayaan kemerdekaan Ukraina ke 20 yang ditandai dengan pembukaan selubung nama masjid, dan pemasangan simbol bulan sabit di puncak menaranya.

Masjid Ar-Rahma dirancang oleh arsitek Alexander Komorowski yang mengadopsi gaya arsitektur berbagai budaya Islam yang ada di kawasan tersebut lengkap dengan kubah besar dan sebuah bangunan menara tunggal setinggi 27 meter.

Masjid yang bisa menampung 3000 jamaah dan dilengkapi dengan gedung madrasah ini memiliki rancangan masjid dalam bentuk denah yang unik.

Rancangan denah masjid Ar-Rahma memiliki bentuk melingkar yang membuat bangunan masjid ini cukup unik. Jika dilihat dari kejauhan masjid Ar-Rahma menyajikan pemandangan yang cukup berbeda di atas bukit.

Masjid Ar-Rahma adalah sebuah karya seni arsitektural yang sangat indah karena memiliki sentuhan arsitektural bangunan masjid yang sangat detil.

Tag:

Sejarah Masjid Al-Rashid Edmunton Kanada

Sejarah Masjid Al-Rashid Edmunton Kanada

Lila Fahlman (Pendiri Dewan Muslimah Kanada tahun 1982) bercerita mengenai sejarah Masjid Al-Rashid.

Pada awal tahun 1930-an Lila Fahlman masih belia, pada saat itu keluarga muslim ketika itu memperbincangkan mengenai pembangunan masjid pertama disana, muncullah Hilwi Hamdon, seorang muslimah yang berkepribadian begitu menarik dan diterima di kalangan manapun.

Bersama temannya Hilwi Hamdon yang kemudian melobi walikota Alberta, John Wesley Fry untuk mendapatkan sebidang lahan bagi pembangunan masjid untuk muslim kota tersebut.

John Wesley Fry merupakan seorang keturunan imigran Arab Kristen. John Wesley Fry sempat berkata “kalian tidak punya uang untuk membangun masjid” akan tetapi Hilwi Hamdon dan rekannya dengan cepat menjawab “kami akan mendapatkan uangnya”.

John Wesley Fry memberikan persetujuan untuk menyediakan lahan bagi pembangunan masjid yang diinginkan, jika ternyata kaum muslimin memiliki dana yang cukup untuk membangun masjid dimaksud.

Pada saat itu mereka membutuhkan dana sekitar $5000 dolar, dimana angka ini tergolong sangat besar pada masa tersebut.

Penggalangan dana baru dimulai setelah mereka mendatangi satu persatu toko di sepanjang ruas jalan Jasper Avenue, ruas jalan utama Edmunton.

Mereka tidak peduli apakah pemilik tokonya seorang nasrani Yahudi, Nasrani atau Muslim. Para muslimah ini meminta para pemilik toko tersebut untuk memberikan dukungan bagi pembangunan masjid tersebut.

Dan untungnya komunitas kota itu sangat mendukung proses pembangunan masjid sehingga berdirilah Masjid Ar-Rashid yang dibangun dari dana sumbangan tiga pemeluk agama samawi.

Masalah kecil terjadi pada saat mereka mencari arsitek untuk merancang bangunan masjid yang akan mereka bangun karena para pengembang yang ada di kota tersebut sama sekali tidak mengenal bangunan masjid.

Lalu para muslimah tersebut memilih arsitek Kanada-Ukraina yang bernama Mike Drewoth lalu berkata bahwa mereka ingin membangun tempat ibadah.

Setelah melalui percakapan yang cukup panjang, Drewoth membuat sebuah rancangan masjid terbaik yang dia bisa, yaitu bangunan yang terlihat mirip dengan gereja Ortodok Rusia jika dibandingkan dengan bangunan masjid yang dikenal oleh masyarakat.

Bangunan masjid Al-Rashid berupa bangunan dengan bentuk memanjang dimana pada salah satu sisinya terdapat sebuah pintu dengan tangga yang dilengkapi dengan ruang besar yang terbuka yang mirip dengan gereja.

Akan tetapi jendela masjid Al-Rashid berbentuk melengkungyang dilengkapi dengan 2 ruang kecil untuk tempat wudhu, ruang bawah tanah (basement) untuk kegiatan sosial dan dibuat 2 menara berdenah segi delapan dengan kubah bawang yang berwarna perak dipasangkan di atasnya lalu dipasang simbol bulan sabit dibagian puncaknya untuk menegaskan bahwa bangunan tersebut adalah bangunan masjid bukan gereja.

Komunitas muslim setempat sangat bangga dengan masjid pertama mereka walaupun masjid Al-Rashid terlihat sangat mirip dengan sebuah gereja ortodok.

Selain itu komunitas masyarakat setempat juga sangat antusias menyumbangkan karpet dan lampu-lampu gantung.

Arsitektur Masjid Raya Natuna

Arsitektur Masjid Raya Natuna

Masjid Agung Natuna adalah sebuah masjid yang berada di Kabupaten Natuna, Indonesia. Masjid Agung Natuna dibangun pada tahun 2007 dan proses pembangunannya selesai pada tahun 2009.

Masjid Agung Natuna adalah bagian dari kompleks Gerbang Utaraku, yaitu daerah yang dipersiapkan khusus sebagai pusat pemerintahan dan bisnis Natuna di wilayah Ranai yang menjadi ibukota Kabupaten Natuna. Bukan hanya itu, masjid juga menjadi titik pusat kawasan tersebut.

Ornamen Masjid Agung Natuna mengambil inspirasi dari Al’quran, karena Al’quran adalah sumber dari segala hukum.

Masjid Agung Natuna adalah masjid yang paling megah dan terbesar yang mirip dengan bentuk kubah mirip kubah Taj Mahal.

Satu barisan shaf di dalam masjid yang cukup luas dan megah ini memiliki kapasitas muatan sekitar 180 orang jemaah.

Masjid Raya Natuna memiliki makna dan lambang dekoratif yang menunjukkan bahwa Masjid Raya Natuna merupakan bangunan islami.

Bagian tengah Masjid Raya Natuna memiliki ruang dalam yang sangat luas yang pencahayaannya diterangi oleh cahaya alami yang berasal dari kubah masjid.

Bagian tepi pada lantai satu yang terteduhi lantai dua cukup gelap. Untuk meneranginya sengaja dibuat bukaan berupa karawang yang berada di atas pintu masuk yang mempunyai dimensi yang cukup besar.

Terasa bahwa ruang remang pada bagian ini diterangi oleh sedikit cahaya dari atas yang terlihat seperti ruang-ruang gotik.

Jika dilihat dari segi bentuk, pintu masuk ini mempunyai geometrika lengkung yang bagian atasnya memiliki bentuk lancip.

2 pintu utama yang berada di sisi kiri dan kanan gedung menghadap ke kiblat juga mengarah pada nuansa ruang menjadi terfokus pada sumber cahaya Ilahi.

Latar belakang mihrab Masjid Raya di Natuna terbuat dari bahan kayu dengan bentuk yang cukup besar. Geometrikanya juga memiliki bentuk dari busur atau lengkung dengan pertemuan lancip pada bagian atas atau tengahnya.

Latar mihrab tersebut juga memiliki desain berupa labirin busur lancip hingga semakin memperkuat kesan gotik-nya.

Tag:

Masjid Agung Touba Senegal

Masjid Agung Touba Senegal

Touba (kebahagiaan) adalah sebuah kota yang terletak di Timur dari ibukota Dakkar yang merupakan ibukota Senegal.

Touba juga bisa diartikan sebagai pohon dari surga karena tempat ini diyakini sebagai tempat yang penuh dengan keberkahan.

Paling tidak bagi Syekh Amadou Bamba atau Syekh Aamadu Bámba Mbákke (1853-1927) Touba juga dikenal sebagai kota suci. Di kota ini peredaran tembakau dan minuman keras dilarang (diharamkan).

Syekh Amadou merupakan seorang sufi yang sangat terkenal dan dihormati di Senegal. Selain itu beliau juga pendiri dari tarekat Mauridiyah atau persaudaraan Mauride.

Dikisahkan bahwa pada tahun 1887 beliau mendapatkan petunjuk dari Allah SWT dalam bentuk cahaya di bawah sebuah pohon di daerah ini.

Sebelumnya daerah rimba belantara ini sangat terpencil. Syekh Amadou sangat populer sehingga hal ini membuat banyaka orang mengunjungi beliau.

Hal ini membuat pemerintahan Perancis yang sedang berkuasa di daerah ini menjadi khawatir sehingga pada tahun 1895 Syekh Amadou ditangkap lalu dibuang ke Gabon hingga tahun 1902 lalu berlanjut ke Mauritania mulai dari tahun 1903 sampai 1907.

Sayangnya taktik ini tidak berjalan dengan mulus karena hal ini justru membuat pengikut Syekh Amadou menjadi bertambah banyak.

Satu tahun menjelang ajalnya Syekh Amadou Bamba memiliki niat untuk mendirikan sebuah masjid yang baru terealisasi setelah 40 tahun pasca kematiannya atau pada tahun 1963.

Kota yang sebelumnya sangat terpencil berkembang menjadi besar setelah masjid berdiri di kota tersebut.

Pada tahun 1964 penduduk yang ada di kota ini adalah sekitar 5 ribu jiwa, lalu pada tahun 2007 berkembang menjadi 529 ribu orang. Banyak sekali orang yang melakukan ziarah ke makam sang syekh dimana mereka berasal dari berbagai wilayah Senegal.

Masjid buatan Syekh Amadou disebut sebagai Masjid Agung Touba dimana masjid ini mempunyai 3 kubah yang sangat besar dan 5 menara.

Di tempat inilah Syekh Amadou dimakamkan. Tinggi menara tengah masjid mencapai 87 meter dimana  menara ini adalah bangunan kebanggaan rakyat Senegal yang juga dinamakan sebagai lamp fall (lampu jatuh).

Pemberian nama ini dilakukan oleh Syekh Ibrahima Fall, yaitu salah seorang syekh yang sangat berpengaruh di kota ini.

Rumah dari putra Amadouu Bamba, seorang khalifah dari persaudaraan Mauride berada di dekat masjid ini.

Selain itu di kota ini juga terdapat gedung pertemuan, perpustakaan dan pemakaman yang dikelola oleh persaudaraan Mauride yang hingga kini masih ada.

Tag:

Masjid Babussalam Gelumbang

Masjid Babussalam Gelumbang

Hingga saat ini masih belum ditemukan prasasti ataupun dokumen yang bisa menjelaskan mengenai waktu dan pendiri pertama dari Masjid Babussalam.

Setelah bangunan lama tidak bisa menampung jamaah, struktur atap mengalami kerusakan yang semakin parah,  arah kiblat masjid yang tidak lagi akurat maka para tokoh masyarakat memiliki kesepakatan untuk merobohkan masjid tersebut pada tahun 1978 lalu menggantinya dengan masjid yang berukuran lebih besar dari sebelumnya di tempat yang sama.

Sebelumnya bentuk masjid Babussalam mirip dengan masjid-masjid lain yang ada di desa-desa lain yang ada di sekitar Kelurahan Gelumbang yang meniru bentuk dari Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II di Kota Palembang.

Masjid ini memiliki atap yang disusun tanpa kubah, lalu disangga oleh empat sokoguru (tiang) yang terbuat dari kayu, struktur atap yang juga terbuat dari kayu, dinding yang terbuat dari batu bata, berjendela besar, dengan sebuah menara berdiri sendiri yang tidak terlalu tinggi.

 

Interior Masjid Babussalam Gelumbang

Ditemukan fakta bahwa tembok masjid itu menggunakan batu bata biasa yang ukurannya jauh lebih besar dari batu bata biasa yang ukurannya benar-benar sama dengan reruntuhan bangunan Belanda di sekitar Sekolah Dasar Negeri-1.

Puncak atap masjid dihiasi dengan mahkota yang berupa kayu ukir yang ditambahi dengan aksesoris berupa ornamen kawat baja.

Sedangkan pada bagian ujung 4 penjuru atap dihiasi dengan ornamen-ornamen yang terlihat seperti ornamen atap bangunan kelenteng.

Seluruh dana pembangunan masjid yang berasal dari swadaya masyarakat menjadikan proses pembangunan masjid ini membutuhkan waktu yang relatif lama sejak dirobohkan pada tahun 1978.

Bangunan masjid Babussalam memiliki banyak tiang beton untuk menyangga kubah, atap dan 4 menara kecil pada setiap penjuru atap masjid.

Setidaknya dalam setahun bagian atas masjid itu juga dijadikan tempat sholat bagi jamaah sholat idul fitri dan idul qurban.

Masjid Babussalam Gelumbang memiliki bentuk segi empat, dengan satu kubah pada bagian tengah ang disanggah oleh 12 tiang beton di dalam masjid yang dilengkapi dengan 4 menara kecil berkubah di bagian atap.

Sedangkan pada bagian kubah utama dihiasi dengan ornamen disekililingnya dengan ornamen yang terlihat seperti undakan candi borobudur. Bagian dalam masjid Babussalam dibalur dengan warna kuning.

Menara masjid yang hingga saat ini masih berdiri adalah menara dari bangunan masjid lama yang sudah dibuat lebih tinggi.

Menara masjid ini sudah menyatu setelah melalui pelebaran padahal sebelumnya menara masjid ini masih terpisah.

Pembangunan masjid yang dilakukan pada tahun 1978 masih mempertahankan bentuk mimbar untuk khutbah jum’at berupa tangga sederhana untuk memberikan tempat lebih tinggi bagi khatib yang menyampaikan khutbah.

Sedangkan ruang mihrab tidak dilengkapi pintu samping, sehingga hal ini membuat Imam dan pengurus masjid harus melewati pintu utama.

Pintu utama masjid Babussalam terdiri dari 4 pintu dimana masing masing satu pintu pada bagian kiri dan kanan masjid sedangkan dua pintu lainnya berada di bagian depan yang menghadap ke tempat parkir.

Daun pintu masjid Babussalam terbuat dari kayu merawan (menggerawan) sedangkan kusen pintu pada bagian atas dibuat melengkung dengan simbol bintang dan bulan sabit pada bagian atas.

Secara keseluruhan hiasan fasad masjid dihias dengan lengkungan lengkungan besar yang  didominasi warna hijau yang diperkuat dengan garis yang berwarna biru.

Galery
Museum Olahraga

Kubah Masjid Poltek Semarang
Kubah Emas Palembang
Untuk melihat gambar yang lainnya klik Disini

Kubah Masjid